- ARTIKELDiferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO
- ARTIKELMengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO
- ARTIKELMembangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas
- ARTIKELMengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit
- ARTIKELTaksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar
- ARTIKELSelf Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO
- MODEL PEMBELAJARANPenggunaan Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran
- MODEL PEMBELAJARANTaxonomi SOLO
- MODEL PEMBELAJARANLembar Kerja Siswa PjBL
- MODEL PEMBELAJARANPerencanaan PjBL Berbasis PDCA. Mengatasi Sampah Daun di Lingkungan Sekolah

Self Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO
Daftar Isi
- 1 Pendahuluan
- 2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern
- 3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar
- 4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa
- 5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi
- 6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas
- 7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning
- 8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO
- 9 Implikasi bagi Pembelajaran
- 10 Penutup
- 11 Daftar Pustaka
Pendahuluan
Dalam praktik pendidikan modern, keberhasilan belajar tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kemampuan siswa memperoleh nilai tinggi atau menguasai sejumlah informasi. Pendidikan juga bertujuan membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu memahami, memantau, dan mengarahkan proses belajarnya sendiri. Kemampuan ini dikenal sebagai self-regulated learning atau regulasi diri dalam belajar (Zimmerman, 2002).
Namun demikian, banyak siswa masih mengalami kesulitan ketika diminta merefleksikan pemahamannya sendiri. Ketika guru bertanya, “Apakah kamu sudah memahami materi?”, respons yang muncul umumnya hanya berupa jawaban sederhana seperti “sudah” atau “belum”. Jawaban tersebut sering kali tidak memberikan informasi yang cukup mengenai kualitas pemahaman yang sebenarnya dimiliki siswa.
Untuk membantu siswa melakukan refleksi yang lebih bermakna, diperlukan suatu kerangka yang dapat menggambarkan perkembangan kualitas pemahaman secara jelas dan mudah dipahami. Salah satu kerangka yang memiliki potensi besar untuk tujuan tersebut adalah Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome) yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982).
Artikel ini membahas bagaimana Taksonomi SOLO dapat digunakan sebagai alat self assessment untuk membantu siswa mengenali posisi belajarnya, mengembangkan kesadaran metakognitif, serta meningkatkan kemampuan regulasi diri dalam pembelajaran.
Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern
Self assessment merupakan proses ketika siswa menilai kualitas pembelajaran, pemahaman, atau kinerja mereka sendiri berdasarkan kriteria tertentu (Andrade & Valtcheva, 2009).
Berbeda dengan penilaian tradisional yang sepenuhnya dilakukan oleh guru, self assessment menempatkan siswa sebagai partisipan aktif dalam proses evaluasi pembelajaran.
Menurut Earl (2013), self assessment merupakan salah satu komponen utama dalam pendekatan assessment as learning, yaitu pendekatan yang memandang asesmen bukan hanya sebagai alat untuk mengukur hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan belajar siswa.
Melalui self assessment, siswa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:
- Apa yang sudah saya pahami?
- Apa yang belum saya pahami?
- Seberapa baik kualitas pemahaman saya?
- Apa langkah berikutnya yang perlu saya lakukan?
Kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan metakognisi, yaitu kemampuan individu untuk memonitor dan mengendalikan proses berpikirnya sendiri (Hattie & Donoghue, 2016).
Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar
Taksonomi SOLO dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) untuk menggambarkan kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa.
Taksonomi ini terdiri atas lima level perkembangan:
- Prestructural
- Unistructural
- Multistructural
- Relational
- Extended Abstract
Pada awalnya, SOLO digunakan sebagai alat untuk menganalisis kualitas respons siswa terhadap suatu tugas pembelajaran. Namun dalam perkembangannya, SOLO juga digunakan sebagai alat refleksi yang membantu siswa memahami perkembangan pemahamannya sendiri (Biggs & Tang, 2011).
Keunggulan SOLO terletak pada kemampuannya menyediakan bahasa yang relatif sederhana untuk menggambarkan kualitas pemahaman.
Alih-alih hanya mengatakan:
“Saya sudah paham.”
Siswa dapat merefleksikan pembelajarannya dengan lebih spesifik, misalnya:
“Saya memahami beberapa konsep penting, tetapi saya belum memahami hubungan antar konsep tersebut.”
Pernyataan seperti ini menunjukkan tingkat kesadaran belajar yang lebih tinggi dan memberikan informasi yang lebih berguna untuk pengembangan pembelajaran selanjutnya.
Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa
Agar SOLO dapat digunakan sebagai alat self assessment, siswa perlu memahami makna dari setiap level perkembangan.
Penting untuk ditekankan bahwa level SOLO tidak menggambarkan kemampuan tetap seorang siswa, melainkan kualitas pemahaman yang ditunjukkan terhadap suatu tugas atau topik tertentu pada waktu tertentu (Biggs & Collis, 1982).
Berikut adalah interpretasi sederhana yang dapat digunakan dalam proses refleksi.
Prestructural
Pada level ini siswa menyadari bahwa dirinya belum memahami konsep yang dipelajari.
Contoh refleksi:
“Saya masih bingung dengan materi ini.”
“Saya belum memahami konsep utamanya.”
Unistructural
Siswa telah memahami satu aspek penting dari materi.
Contoh refleksi:
“Saya memahami satu ide penting dari materi ini.”
“Saya dapat menjelaskan satu bagian utama.”
Multistructural
Siswa memahami beberapa konsep yang relevan, tetapi belum memahami hubungan di antaranya.
Contoh refleksi:
“Saya memahami beberapa konsep penting.”
“Saya dapat menyebutkan beberapa informasi yang berkaitan dengan topik ini.”
Relational
Siswa mampu menghubungkan berbagai konsep menjadi satu kesatuan yang bermakna.
Contoh refleksi:
“Saya memahami bagaimana berbagai konsep saling berhubungan.”
“Saya dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam materi ini.”
Extended Abstract
Siswa mampu menerapkan pemahaman ke situasi baru atau mengembangkan gagasan yang lebih luas.
Contoh refleksi:
“Saya dapat menggunakan konsep ini untuk menjelaskan masalah lain.”
“Saya dapat menerapkan konsep ini pada situasi baru.”
SOLO dan Pengembangan Metakognisi
Salah satu alasan utama penggunaan SOLO dalam self assessment adalah kemampuannya mendukung perkembangan metakognisi.
Hattie dan Donoghue (2016) menjelaskan bahwa pembelajar yang efektif tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu memonitor dan mengevaluasi pemahamannya sendiri.
Dalam konteks ini, SOLO membantu siswa menjawab tiga pertanyaan penting dalam proses belajar:
- Di mana posisi saya saat ini?
- Apa bukti yang menunjukkan posisi tersebut?
- Apa yang perlu saya lakukan untuk berkembang?
Ketika siswa secara rutin melakukan refleksi berdasarkan ketiga pertanyaan tersebut, mereka mulai mengembangkan kesadaran terhadap proses berpikirnya sendiri.
Kemampuan inilah yang menjadi fondasi penting bagi pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning).
Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas
Penerapan self assessment berbasis SOLO tidak harus dilakukan melalui instrumen yang kompleks.
Guru dapat memulainya melalui aktivitas refleksi singkat pada akhir pembelajaran.
Misalnya, setelah menyelesaikan suatu topik, siswa diminta menjawab tiga pertanyaan berikut:
1. Menurutmu, kamu berada pada level SOLO yang mana?
Pertanyaan ini membantu siswa mengidentifikasi posisi pemahamannya.
2. Apa bukti yang mendukung penilaian tersebut?
Pertanyaan ini mendorong siswa memberikan alasan atau contoh konkret atas refleksinya.
3. Apa yang perlu kamu lakukan untuk mencapai level berikutnya?
Pertanyaan ini membantu siswa mengembangkan orientasi terhadap pertumbuhan (growth orientation).
Praktik sederhana seperti ini sejalan dengan prinsip umpan balik efektif yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami posisi saat ini dan langkah berikutnya yang perlu dilakukan (Hattie & Timperley, 2007).
Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning
Secara tradisional, asesmen sering digunakan untuk menentukan sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Pendekatan ini dikenal sebagai assessment of learning.
Namun perkembangan teori asesmen menunjukkan bahwa asesmen juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk membantu siswa belajar. Pendekatan ini dikenal sebagai assessment as learning (Earl, 2013).
Dalam assessment as learning, siswa tidak lagi menjadi objek penilaian semata.
Mereka menjadi pelaku aktif yang:
- memonitor pembelajarannya;
- mengevaluasi kualitas pemahamannya;
- menetapkan target belajar berikutnya;
- dan mengambil keputusan untuk memperbaiki proses belajar.
Taksonomi SOLO mendukung pendekatan ini karena menyediakan kerangka yang memungkinkan siswa memahami perkembangan kualitas pemahamannya secara bertahap.
Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO
Meskipun memiliki banyak manfaat, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.
Menggunakan SOLO Sebagai Label Siswa
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap level SOLO sebagai identitas siswa.
Misalnya:
“Saya siswa Relational.”
Atau:
“Saya hanya siswa Multistructural.”
Pandangan seperti ini bertentangan dengan tujuan SOLO.
SOLO menggambarkan kualitas respons terhadap suatu tugas tertentu, bukan karakteristik permanen individu (Biggs & Collis, 1982).
Mengubah SOLO Menjadi Sekadar Skor
Dalam beberapa praktik, level SOLO langsung dikonversi menjadi angka.
Meskipun hal ini dapat mempermudah pelaporan, fokus pembelajaran berisiko kembali bergeser ke pencapaian skor.
Padahal tujuan utama self assessment adalah membantu siswa memahami kualitas pemahamannya dan merencanakan pengembangannya.
Tidak Menindaklanjuti Hasil Refleksi
Refleksi hanya akan bermakna apabila digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya.
Tanpa tindak lanjut, self assessment berisiko menjadi aktivitas administratif yang tidak memberikan dampak nyata terhadap proses belajar.
Implikasi bagi Pembelajaran
Penggunaan SOLO dalam self assessment memberikan beberapa manfaat penting bagi pembelajaran.
Pertama, SOLO membantu siswa mengembangkan bahasa untuk mendeskripsikan kualitas pemahamannya.
Kedua, SOLO mendukung perkembangan metakognisi dan regulasi diri dalam belajar.
Ketiga, SOLO membantu guru membangun budaya belajar yang berorientasi pada pertumbuhan, bukan sekadar pencapaian nilai.
Keempat, SOLO memperkuat praktik asesmen formatif dengan menjadikan siswa sebagai mitra aktif dalam proses evaluasi pembelajaran.
Dengan demikian, SOLO tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan kemandirian belajar siswa.
Penutup
Taksonomi SOLO menawarkan kerangka yang kuat untuk membantu siswa memahami kualitas pemahamannya sendiri. Melalui self assessment berbasis SOLO, siswa tidak hanya mengetahui apakah mereka telah memahami suatu materi, tetapi juga memahami tingkat kualitas pemahaman yang dimilikinya serta langkah-langkah yang diperlukan untuk berkembang.
Dalam konteks pendidikan yang semakin menekankan pentingnya metakognisi, regulasi diri, dan pembelajaran sepanjang hayat, penggunaan SOLO sebagai alat self assessment memiliki potensi besar untuk membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih reflektif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya.
Daftar Pustaka
Andrade, H., & Valtcheva, A. (2009). Promoting learning and achievement through self-assessment. Theory Into Practice, 48(1), 12–19. https://doi.org/10.1080/00405840802577544
Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.
Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.
Earl, L. M. (2013). Assessment as learning: Using classroom assessment to maximize student learning (2nd ed.). Corwin Press.
Hattie, J., & Donoghue, G. (2016). Learning strategies: A synthesis and conceptual model. npj Science of Learning, 1(1), Article 16013. https://doi.org/10.1038/npjscilearn.2016.13
Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/10.3102/003465430298487
Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70. https://doi.org/10.1207/s15430421tip4102_2
wisnurat
Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.
wisnurat
07 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Diferensiasi Pembelajaran3 Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar4 Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?5 Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO6 Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO7 SOLO dan Assessment for Learning8 SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar9 Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO10 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran11 Penutup12 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan utama …
wisnurat
07 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional3 Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik4 Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO5 Contoh Pengembangan Rubrik SOLO6 Rubrik SOLO dan Assessment for Learning7 Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset8 Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO9 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan …
wisnurat
07 Jun 2026
Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …
wisnurat
06 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?3 Lima Level dalam Taksonomi SOLO4 Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit5 Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?6 Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO7 Implikasi bagi Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. …
wisnurat
06 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Taksonomi SOLO3 SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar4 Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO5 Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?6 SOLO dan Assessment for Learning7 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa: “Apakah …
wisnurat
23 Feb 2025
Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …
28 Mar 2018 233.812 views
Daftar Isi1 “Bagaimana sih alur pembelajaran inquiry diimplementasikan dalam proses pembelajaran?”2 Lima Langkah Utama Model Pembelajaran Ikuiri3 Tips untuk Implementasi di Kelas4 Contoh Rancangan Pembelajaran Inquiry Learning “Bagaimana sih alur pembelajaran inquiry diimplementasikan dalam proses pembelajaran?” Pertanyaan menarik yang perlu kita ulik jawabannya. Coba deh temen-temen cek isi dokumen Capaian Pembelajaran . Model Pembelajaran Inquiry …
02 Jul 2022 58.261 views
Daftar Isi1 Pilihan Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran2 Contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran3 Download Format Rumusan TP Di dalam Kurikulum Merdeka. Pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan. Namun demikian, CP tidak cukup konkret untuk memandu kegiatan pembelajaran sehari-hari. CP perlu diurai menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih operasional dan konkret, yang dicapai satu persatu oleh …
28 May 2016 36.544 views
Semangat literasi mengundang ketertarikan saya untuk menikmati buku bacaan baru dan akkirnya berlabuh pada “68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013” yang ditulis Aris Shoimin. Proses belajar mengajar dipengaruhi emosi. Apabila siswa merasa terpaksa mengikuti proses pembelajaran, mereka akan kesulitan memahami materi yang disampaikan guru. Maka dari itu, semestinya guru mampu menciptakan suasana kondusif sehingga …
13 Dec 2021 34.411 views
Daftar Isi1 Sintak Model Pembelajaran Demonstrasi2 Langkah langkah Model Pembelajaran Demonstrasi3 Kelebihan Model Pembelajaran Demonstrasi4 Kekurangan Model Pembelajaran Demonstrasi Model pembelajaran demonstrasi adalah model pembelajaran dengan skenario peragaan. Bisa memperagakan kejadian, urutan akifitas, kejadian atau cara penggunaan alat tertentu. Peragaan bisa dilakukan secara langsung atau dengan menggunakan perantara media pembelajaran. Sintak Model Pembelajaran Demonstrasi Lalu, …
01 Oct 2021 31.328 views
Daftar Isi1 Prinsip Pembelajaran Cooperative Learning2 Sintak Pembelajaran Cooperative Learning3 Langkah – langkah Pembelajaran Cooperative Learning Okeguru.com – Model pembelajaran cooperative learning. Halo teman-teman Okeguru.Kita tahu di dalam kelas terdapat siswa yang bervariatif. Mulai dari latar belakang suku, kebiasaan dan akhirnya membentuk karakter yang unik. Kondisi ini menuntut kita untuk mencari model pembelajaran yang tepat. …






Comments are not available at the moment.