- ARTIKELDiferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO
- ARTIKELMengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO
- ARTIKELMembangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas
- ARTIKELMengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit
- ARTIKELTaksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar
- ARTIKELSelf Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO
- MODEL PEMBELAJARANPenggunaan Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran
- MODEL PEMBELAJARANTaxonomi SOLO
- MODEL PEMBELAJARANLembar Kerja Siswa PjBL
- MODEL PEMBELAJARANPerencanaan PjBL Berbasis PDCA. Mengatasi Sampah Daun di Lingkungan Sekolah

Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO
Daftar Isi
- 1 Pendahuluan
- 2 Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional
- 3 Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik
- 4 Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO
- 5 Contoh Pengembangan Rubrik SOLO
- 6 Rubrik SOLO dan Assessment for Learning
- 7 Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset
- 8 Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO
- 9 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran
- 10 Penutup
- 11 Daftar Pustaka
Pendahuluan
Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan dalam pendidikan karena mampu membantu guru melakukan penilaian secara lebih sistematis, transparan, dan konsisten. Melalui rubrik, guru dapat menjelaskan kriteria keberhasilan suatu tugas sekaligus memberikan umpan balik yang lebih terarah kepada siswa.
Namun demikian, dalam praktiknya banyak rubrik masih berfokus pada pengukuran hasil akhir. Rubrik sering kali digunakan untuk menentukan skor atau nilai berdasarkan terpenuhi atau tidaknya sejumlah indikator tertentu. Akibatnya, siswa mengetahui seberapa baik hasil kerjanya, tetapi belum tentu memahami bagaimana kualitas pemahamannya berkembang atau apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas tersebut.
Perkembangan teori asesmen menunjukkan bahwa penilaian yang efektif tidak hanya berfungsi untuk mengukur hasil belajar (assessment of learning), tetapi juga harus mampu mendukung proses belajar (assessment for learning) dan bahkan menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri (assessment as learning) (Earl, 2013).
Dalam konteks tersebut, Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome) yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) menawarkan perspektif yang menarik. SOLO memungkinkan guru mengembangkan rubrik yang tidak hanya menggambarkan pencapaian siswa, tetapi juga menunjukkan kualitas struktur pemahaman yang dimiliki siswa dan arah perkembangan yang perlu ditempuh.
Artikel ini membahas bagaimana rubrik penilaian dapat direkonstruksi menggunakan Taksonomi SOLO sehingga berfungsi tidak hanya sebagai alat pemberi skor, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan kualitas pemahaman siswa.
Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional
Rubrik tradisional umumnya disusun berdasarkan sejumlah kriteria performa yang diberi bobot tertentu.
Sebagai contoh, rubrik untuk tugas menulis dapat mencakup komponen seperti:
- ketepatan isi;
- organisasi tulisan;
- penggunaan bahasa;
- kreativitas.
Setiap komponen kemudian diberi skor berdasarkan tingkat pencapaian siswa.
Pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan, seperti meningkatkan objektivitas dan konsistensi penilaian. Namun, terdapat keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Pertama, rubrik tradisional cenderung berfokus pada produk akhir daripada kualitas proses berpikir yang melandasinya.
Kedua, siswa sering kali hanya memperoleh informasi mengenai tingkat pencapaiannya, tanpa memperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana kualitas pemahamannya berkembang.
Ketiga, umpan balik yang diberikan sering kali bersifat evaluatif, misalnya:
“Kurang lengkap.”
“Masih perlu dikembangkan.”
Komentar seperti ini menunjukkan adanya kekurangan, tetapi belum tentu membantu siswa memahami langkah yang perlu dilakukan untuk berkembang.
Menurut Hattie dan Timperley (2007), umpan balik yang efektif seharusnya membantu siswa menjawab tiga pertanyaan utama:
- Ke mana saya akan pergi? (Where am I going?)
- Bagaimana kemajuan saya saat ini? (How am I going?)
- Apa langkah berikutnya? (Where to next?)
Rubrik berbasis SOLO dapat membantu menjawab ketiga pertanyaan tersebut.
Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik
Taksonomi SOLO dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) untuk menggambarkan kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa.
Taksonomi ini terdiri atas lima level perkembangan:
- Prestructural
- Unistructural
- Multistructural
- Relational
- Extended Abstract
Perbedaan utama SOLO dengan banyak sistem penilaian tradisional terletak pada fokusnya terhadap kualitas organisasi pengetahuan, bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki siswa.
Menurut Biggs dan Tang (2011), pembelajaran yang berkualitas ditandai oleh kemampuan siswa membangun hubungan konseptual yang bermakna dan menerapkan pemahaman tersebut dalam situasi baru.
Karena itu, penggunaan SOLO dalam rubrik memungkinkan guru menilai perkembangan kualitas pemahaman secara lebih mendalam.
Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO
Rubrik berbasis SOLO memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan rubrik konvensional.
Jika rubrik tradisional sering berfokus pada kuantitas atau kelengkapan informasi, rubrik SOLO berfokus pada kualitas struktur pemahaman.
Pertanyaan utama yang digunakan bukan:
“Berapa banyak informasi yang ditampilkan siswa?”
melainkan:
“Bagaimana siswa mengorganisasikan dan menghubungkan informasi tersebut?”
Dengan demikian, setiap level dalam rubrik menggambarkan kualitas berpikir yang berbeda.
Contoh Pengembangan Rubrik SOLO
Misalkan siswa diberikan tugas berikut:
Jelaskan pentingnya ekosistem bagi kehidupan manusia.
Berikut contoh rubrik yang dikembangkan berdasarkan level SOLO.
Level Prestructural
Pada level ini, jawaban siswa belum menunjukkan pemahaman yang relevan terhadap konsep yang dipelajari.
Contoh respons:
Ekosistem adalah pelajaran IPA.
Atau:
Ekosistem berkaitan dengan tumbuhan saja.
Respons menunjukkan miskonsepsi atau ketidaksesuaian dengan tujuan pembelajaran.
Umpan balik yang dapat diberikan:
Coba pelajari kembali konsep dasar ekosistem dan komponen-komponen yang menyusunnya.
Level Unistructural
Siswa memahami satu aspek penting dari konsep yang dipelajari.
Contoh respons:
Ekosistem penting karena ada tumbuhan.
Siswa telah menunjukkan pemahaman awal, tetapi masih terbatas pada satu elemen penting.
Umpan balik yang dapat diberikan:
Kamu telah mengidentifikasi satu komponen penting. Cobalah mengeksplorasi komponen lain yang juga berperan dalam ekosistem.
Level Multistructural
Siswa mampu menyebutkan beberapa konsep yang relevan.
Contoh respons:
Ekosistem terdiri atas tumbuhan, hewan, dan lingkungan. Semua komponen tersebut penting bagi kehidupan.
Beberapa informasi telah muncul, tetapi hubungan antar informasi belum dijelaskan.
Umpan balik yang dapat diberikan:
Kamu telah menjelaskan beberapa komponen penting. Langkah berikutnya adalah menjelaskan bagaimana komponen tersebut saling berhubungan.
Level Relational
Siswa mampu menghubungkan berbagai konsep menjadi satu kesatuan yang bermakna.
Contoh respons:
Ekosistem penting karena hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya menjaga keseimbangan yang mendukung kelangsungan kehidupan.
Respons menunjukkan integrasi berbagai konsep dalam satu penjelasan yang koheren.
Umpan balik yang dapat diberikan:
Penjelasanmu sudah menunjukkan hubungan antar konsep dengan baik. Cobalah menerapkan pemahaman ini untuk menjelaskan permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita.
Level Extended Abstract
Siswa mampu menerapkan pemahaman pada konteks baru atau menghasilkan generalisasi yang lebih luas.
Contoh respons:
Kerusakan ekosistem dapat memengaruhi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan global. Oleh karena itu, pelestarian ekosistem menjadi tanggung jawab bersama.
Respons menunjukkan kemampuan transfer pengetahuan dan perluasan gagasan.
Umpan balik yang dapat diberikan:
Kamu telah mampu mengembangkan konsep ke konteks yang lebih luas. Pertimbangkan bagaimana solusi konkret dapat dirancang berdasarkan pemahaman tersebut.
Rubrik SOLO dan Assessment for Learning
Salah satu kontribusi penting rubrik SOLO adalah kemampuannya mendukung asesmen formatif.
Menurut Black dan Wiliam (1998), asesmen formatif yang efektif memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar selama pembelajaran berlangsung.
Rubrik SOLO mendukung prinsip ini karena setiap level tidak hanya menunjukkan posisi belajar siswa saat ini, tetapi juga menunjukkan arah perkembangan yang perlu ditempuh.
Dengan kata lain, rubrik SOLO tidak sekadar menjawab:
“Seberapa baik hasil kerja saya?”
Tetapi juga:
“Apa yang perlu saya lakukan agar kualitas pemahaman saya berkembang?”
Pendekatan seperti ini menjadikan rubrik sebagai alat pembelajaran, bukan sekadar alat evaluasi.
Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset
Selain mendukung asesmen formatif, rubrik SOLO juga memiliki potensi untuk mengembangkan growth mindset.
Menurut Dweck (2006), individu dengan growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui usaha, strategi, dan pengalaman belajar.
Rubrik tradisional yang terlalu menekankan skor berisiko membuat siswa memandang kemampuan sebagai sesuatu yang statis.
Sebaliknya, rubrik SOLO menggambarkan perkembangan sebagai sebuah perjalanan bertahap.
Siswa tidak dipandang sebagai “pandai” atau “kurang pandai”, tetapi sebagai individu yang sedang berada pada tahap perkembangan tertentu.
Pendekatan ini membantu siswa melihat bahwa peningkatan kualitas pemahaman merupakan proses yang dapat dicapai melalui pembelajaran yang berkelanjutan.
Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO
Meskipun memiliki banyak kelebihan, terdapat beberapa tantangan dalam penggunaannya.
Mengonversi SOLO Menjadi Sekadar Skor
Dalam praktiknya, beberapa guru langsung mengaitkan level SOLO dengan skor numerik tertentu.
Meskipun hal ini dapat membantu pelaporan hasil belajar, fokus utama rubrik SOLO seharusnya tetap pada kualitas pemahaman, bukan pada angka.
Menggunakan SOLO sebagai Label Siswa
SOLO menggambarkan kualitas respons terhadap suatu tugas tertentu, bukan karakteristik permanen siswa.
Oleh karena itu, pernyataan seperti:
“Kamu adalah siswa Multistructural.”
tidak sesuai dengan prinsip dasar SOLO.
Yang lebih tepat adalah:
“Responsmu pada tugas ini menunjukkan karakteristik level Multistructural.”
Tidak Memanfaatkan Rubrik untuk Umpan Balik
Rubrik SOLO akan kehilangan sebagian besar manfaatnya jika hanya digunakan untuk menentukan nilai akhir.
Kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuannya membantu siswa memahami langkah perkembangan berikutnya.
Implikasi bagi Praktik Pembelajaran
Penggunaan rubrik berbasis SOLO memiliki beberapa implikasi penting.
Pertama, guru dapat memberikan umpan balik yang lebih spesifik dan berorientasi pada perkembangan.
Kedua, siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas pemahamannya.
Ketiga, rubrik dapat digunakan sebagai alat refleksi dan self assessment.
Keempat, rubrik mendukung pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman mendalam (deep learning), bukan sekadar reproduksi informasi.
Dengan demikian, rubrik SOLO dapat menjadi salah satu instrumen yang membantu mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada perkembangan siswa.
Penutup
Taksonomi SOLO memberikan kerangka yang kuat untuk mengembangkan rubrik penilaian yang berorientasi pada kualitas pemahaman. Melalui lima level perkembangan—prestructural, unistructural, multistructural, relational, dan extended abstract—guru dapat menggambarkan perkembangan berpikir siswa secara lebih jelas dan sistematis.
Berbeda dengan rubrik tradisional yang sering berfokus pada skor, rubrik berbasis SOLO membantu siswa memahami posisi belajarnya saat ini sekaligus langkah yang perlu ditempuh untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.
Dalam konteks pendidikan yang semakin menekankan pentingnya asesmen formatif, refleksi, dan pembelajaran sepanjang hayat, rubrik SOLO menawarkan pendekatan yang tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga membantu mengembangkan kualitas belajar itu sendiri.
Daftar Pustaka
Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.
Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.
Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and classroom learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7–74. https://doi.org/10.1080/0969595980050102
Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.
Earl, L. M. (2013). Assessment as learning: Using classroom assessment to maximize student learning (2nd ed.). Corwin Press.
Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/10.3102/003465430298487
Baca juga
Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO
Membangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas
Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit
Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar
Level Berpikir Siswa ala Taksonomi SOLO – Panduan Ringkas untuk Temen-Temen Okeguru
Desain Learning Log Berbasis Taksonomi SOLO
wisnurat
Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.
wisnurat
07 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Diferensiasi Pembelajaran3 Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar4 Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?5 Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO6 Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO7 SOLO dan Assessment for Learning8 SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar9 Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO10 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran11 Penutup12 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan utama …
wisnurat
07 Jun 2026
Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …
wisnurat
06 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?3 Lima Level dalam Taksonomi SOLO4 Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit5 Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?6 Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO7 Implikasi bagi Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. …
wisnurat
06 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Taksonomi SOLO3 SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar4 Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO5 Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?6 SOLO dan Assessment for Learning7 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa: “Apakah …
wisnurat
06 Jun 2026
Daftar Isi1 Pendahuluan2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO9 Implikasi bagi Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pendidikan …
wisnurat
23 Feb 2025
Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …
28 Mar 2018 233.811 views
Daftar Isi1 “Bagaimana sih alur pembelajaran inquiry diimplementasikan dalam proses pembelajaran?”2 Lima Langkah Utama Model Pembelajaran Ikuiri3 Tips untuk Implementasi di Kelas4 Contoh Rancangan Pembelajaran Inquiry Learning “Bagaimana sih alur pembelajaran inquiry diimplementasikan dalam proses pembelajaran?” Pertanyaan menarik yang perlu kita ulik jawabannya. Coba deh temen-temen cek isi dokumen Capaian Pembelajaran . Model Pembelajaran Inquiry …
02 Jul 2022 58.261 views
Daftar Isi1 Pilihan Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran2 Contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran3 Download Format Rumusan TP Di dalam Kurikulum Merdeka. Pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan. Namun demikian, CP tidak cukup konkret untuk memandu kegiatan pembelajaran sehari-hari. CP perlu diurai menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih operasional dan konkret, yang dicapai satu persatu oleh …
28 May 2016 36.544 views
Semangat literasi mengundang ketertarikan saya untuk menikmati buku bacaan baru dan akkirnya berlabuh pada “68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013” yang ditulis Aris Shoimin. Proses belajar mengajar dipengaruhi emosi. Apabila siswa merasa terpaksa mengikuti proses pembelajaran, mereka akan kesulitan memahami materi yang disampaikan guru. Maka dari itu, semestinya guru mampu menciptakan suasana kondusif sehingga …
13 Dec 2021 34.411 views
Daftar Isi1 Sintak Model Pembelajaran Demonstrasi2 Langkah langkah Model Pembelajaran Demonstrasi3 Kelebihan Model Pembelajaran Demonstrasi4 Kekurangan Model Pembelajaran Demonstrasi Model pembelajaran demonstrasi adalah model pembelajaran dengan skenario peragaan. Bisa memperagakan kejadian, urutan akifitas, kejadian atau cara penggunaan alat tertentu. Peragaan bisa dilakukan secara langsung atau dengan menggunakan perantara media pembelajaran. Sintak Model Pembelajaran Demonstrasi Lalu, …
01 Oct 2021 31.328 views
Daftar Isi1 Prinsip Pembelajaran Cooperative Learning2 Sintak Pembelajaran Cooperative Learning3 Langkah – langkah Pembelajaran Cooperative Learning Okeguru.com – Model pembelajaran cooperative learning. Halo teman-teman Okeguru.Kita tahu di dalam kelas terdapat siswa yang bervariatif. Mulai dari latar belakang suku, kebiasaan dan akhirnya membentuk karakter yang unik. Kondisi ini menuntut kita untuk mencari model pembelajaran yang tepat. …
Comments are not available at the moment.