rubrik solo
Home » ARTIKEL » Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO

Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat 07 Jun 2026 6

Pendahuluan

Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan dalam pendidikan karena mampu membantu guru melakukan penilaian secara lebih sistematis, transparan, dan konsisten. Melalui rubrik, guru dapat menjelaskan kriteria keberhasilan suatu tugas sekaligus memberikan umpan balik yang lebih terarah kepada siswa.

Namun demikian, dalam praktiknya banyak rubrik masih berfokus pada pengukuran hasil akhir. Rubrik sering kali digunakan untuk menentukan skor atau nilai berdasarkan terpenuhi atau tidaknya sejumlah indikator tertentu. Akibatnya, siswa mengetahui seberapa baik hasil kerjanya, tetapi belum tentu memahami bagaimana kualitas pemahamannya berkembang atau apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas tersebut.

Perkembangan teori asesmen menunjukkan bahwa penilaian yang efektif tidak hanya berfungsi untuk mengukur hasil belajar (assessment of learning), tetapi juga harus mampu mendukung proses belajar (assessment for learning) dan bahkan menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri (assessment as learning) (Earl, 2013).

Dalam konteks tersebut, Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome) yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) menawarkan perspektif yang menarik. SOLO memungkinkan guru mengembangkan rubrik yang tidak hanya menggambarkan pencapaian siswa, tetapi juga menunjukkan kualitas struktur pemahaman yang dimiliki siswa dan arah perkembangan yang perlu ditempuh.

Artikel ini membahas bagaimana rubrik penilaian dapat direkonstruksi menggunakan Taksonomi SOLO sehingga berfungsi tidak hanya sebagai alat pemberi skor, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan kualitas pemahaman siswa.

Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional

Rubrik tradisional umumnya disusun berdasarkan sejumlah kriteria performa yang diberi bobot tertentu.

Sebagai contoh, rubrik untuk tugas menulis dapat mencakup komponen seperti:

  • ketepatan isi;
  • organisasi tulisan;
  • penggunaan bahasa;
  • kreativitas.

Setiap komponen kemudian diberi skor berdasarkan tingkat pencapaian siswa.

Pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan, seperti meningkatkan objektivitas dan konsistensi penilaian. Namun, terdapat keterbatasan yang perlu diperhatikan.

Pertama, rubrik tradisional cenderung berfokus pada produk akhir daripada kualitas proses berpikir yang melandasinya.

Kedua, siswa sering kali hanya memperoleh informasi mengenai tingkat pencapaiannya, tanpa memperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana kualitas pemahamannya berkembang.

Ketiga, umpan balik yang diberikan sering kali bersifat evaluatif, misalnya:

“Kurang lengkap.”

“Masih perlu dikembangkan.”

Komentar seperti ini menunjukkan adanya kekurangan, tetapi belum tentu membantu siswa memahami langkah yang perlu dilakukan untuk berkembang.

Menurut Hattie dan Timperley (2007), umpan balik yang efektif seharusnya membantu siswa menjawab tiga pertanyaan utama:

  1. Ke mana saya akan pergi? (Where am I going?)
  2. Bagaimana kemajuan saya saat ini? (How am I going?)
  3. Apa langkah berikutnya? (Where to next?)

Rubrik berbasis SOLO dapat membantu menjawab ketiga pertanyaan tersebut.

Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik

Taksonomi SOLO dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) untuk menggambarkan kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa.

Taksonomi ini terdiri atas lima level perkembangan:

  1. Prestructural
  2. Unistructural
  3. Multistructural
  4. Relational
  5. Extended Abstract

Perbedaan utama SOLO dengan banyak sistem penilaian tradisional terletak pada fokusnya terhadap kualitas organisasi pengetahuan, bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki siswa.

Menurut Biggs dan Tang (2011), pembelajaran yang berkualitas ditandai oleh kemampuan siswa membangun hubungan konseptual yang bermakna dan menerapkan pemahaman tersebut dalam situasi baru.

Karena itu, penggunaan SOLO dalam rubrik memungkinkan guru menilai perkembangan kualitas pemahaman secara lebih mendalam.

Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO

Rubrik berbasis SOLO memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan rubrik konvensional.

Jika rubrik tradisional sering berfokus pada kuantitas atau kelengkapan informasi, rubrik SOLO berfokus pada kualitas struktur pemahaman.

Pertanyaan utama yang digunakan bukan:

“Berapa banyak informasi yang ditampilkan siswa?”

melainkan:

“Bagaimana siswa mengorganisasikan dan menghubungkan informasi tersebut?”

Dengan demikian, setiap level dalam rubrik menggambarkan kualitas berpikir yang berbeda.

Contoh Pengembangan Rubrik SOLO

Misalkan siswa diberikan tugas berikut:

Jelaskan pentingnya ekosistem bagi kehidupan manusia.

Berikut contoh rubrik yang dikembangkan berdasarkan level SOLO.

Level Prestructural

Pada level ini, jawaban siswa belum menunjukkan pemahaman yang relevan terhadap konsep yang dipelajari.

Contoh respons:

Ekosistem adalah pelajaran IPA.

Atau:

Ekosistem berkaitan dengan tumbuhan saja.

Respons menunjukkan miskonsepsi atau ketidaksesuaian dengan tujuan pembelajaran.

Umpan balik yang dapat diberikan:

Coba pelajari kembali konsep dasar ekosistem dan komponen-komponen yang menyusunnya.

Level Unistructural

Siswa memahami satu aspek penting dari konsep yang dipelajari.

Contoh respons:

Ekosistem penting karena ada tumbuhan.

Siswa telah menunjukkan pemahaman awal, tetapi masih terbatas pada satu elemen penting.

Umpan balik yang dapat diberikan:

Kamu telah mengidentifikasi satu komponen penting. Cobalah mengeksplorasi komponen lain yang juga berperan dalam ekosistem.

Level Multistructural

Siswa mampu menyebutkan beberapa konsep yang relevan.

Contoh respons:

Ekosistem terdiri atas tumbuhan, hewan, dan lingkungan. Semua komponen tersebut penting bagi kehidupan.

Beberapa informasi telah muncul, tetapi hubungan antar informasi belum dijelaskan.

Umpan balik yang dapat diberikan:

Kamu telah menjelaskan beberapa komponen penting. Langkah berikutnya adalah menjelaskan bagaimana komponen tersebut saling berhubungan.

Level Relational

Siswa mampu menghubungkan berbagai konsep menjadi satu kesatuan yang bermakna.

Contoh respons:

Ekosistem penting karena hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya menjaga keseimbangan yang mendukung kelangsungan kehidupan.

Respons menunjukkan integrasi berbagai konsep dalam satu penjelasan yang koheren.

Umpan balik yang dapat diberikan:

Penjelasanmu sudah menunjukkan hubungan antar konsep dengan baik. Cobalah menerapkan pemahaman ini untuk menjelaskan permasalahan lingkungan yang terjadi di sekitar kita.

Level Extended Abstract

Siswa mampu menerapkan pemahaman pada konteks baru atau menghasilkan generalisasi yang lebih luas.

Contoh respons:

Kerusakan ekosistem dapat memengaruhi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan global. Oleh karena itu, pelestarian ekosistem menjadi tanggung jawab bersama.

Respons menunjukkan kemampuan transfer pengetahuan dan perluasan gagasan.

Umpan balik yang dapat diberikan:

Kamu telah mampu mengembangkan konsep ke konteks yang lebih luas. Pertimbangkan bagaimana solusi konkret dapat dirancang berdasarkan pemahaman tersebut.

Rubrik SOLO dan Assessment for Learning

Salah satu kontribusi penting rubrik SOLO adalah kemampuannya mendukung asesmen formatif.

Menurut Black dan Wiliam (1998), asesmen formatif yang efektif memberikan informasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar selama pembelajaran berlangsung.

Rubrik SOLO mendukung prinsip ini karena setiap level tidak hanya menunjukkan posisi belajar siswa saat ini, tetapi juga menunjukkan arah perkembangan yang perlu ditempuh.

Dengan kata lain, rubrik SOLO tidak sekadar menjawab:

“Seberapa baik hasil kerja saya?”

Tetapi juga:

“Apa yang perlu saya lakukan agar kualitas pemahaman saya berkembang?”

Pendekatan seperti ini menjadikan rubrik sebagai alat pembelajaran, bukan sekadar alat evaluasi.

Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset

Selain mendukung asesmen formatif, rubrik SOLO juga memiliki potensi untuk mengembangkan growth mindset.

Menurut Dweck (2006), individu dengan growth mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang dapat berkembang melalui usaha, strategi, dan pengalaman belajar.

Rubrik tradisional yang terlalu menekankan skor berisiko membuat siswa memandang kemampuan sebagai sesuatu yang statis.

Sebaliknya, rubrik SOLO menggambarkan perkembangan sebagai sebuah perjalanan bertahap.

Siswa tidak dipandang sebagai “pandai” atau “kurang pandai”, tetapi sebagai individu yang sedang berada pada tahap perkembangan tertentu.

Pendekatan ini membantu siswa melihat bahwa peningkatan kualitas pemahaman merupakan proses yang dapat dicapai melalui pembelajaran yang berkelanjutan.

Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO

Meskipun memiliki banyak kelebihan, terdapat beberapa tantangan dalam penggunaannya.

Mengonversi SOLO Menjadi Sekadar Skor

Dalam praktiknya, beberapa guru langsung mengaitkan level SOLO dengan skor numerik tertentu.

Meskipun hal ini dapat membantu pelaporan hasil belajar, fokus utama rubrik SOLO seharusnya tetap pada kualitas pemahaman, bukan pada angka.

Menggunakan SOLO sebagai Label Siswa

SOLO menggambarkan kualitas respons terhadap suatu tugas tertentu, bukan karakteristik permanen siswa.

Oleh karena itu, pernyataan seperti:

“Kamu adalah siswa Multistructural.”

tidak sesuai dengan prinsip dasar SOLO.

Yang lebih tepat adalah:

“Responsmu pada tugas ini menunjukkan karakteristik level Multistructural.”

Tidak Memanfaatkan Rubrik untuk Umpan Balik

Rubrik SOLO akan kehilangan sebagian besar manfaatnya jika hanya digunakan untuk menentukan nilai akhir.

Kekuatan utamanya justru terletak pada kemampuannya membantu siswa memahami langkah perkembangan berikutnya.

Implikasi bagi Praktik Pembelajaran

Penggunaan rubrik berbasis SOLO memiliki beberapa implikasi penting.

Pertama, guru dapat memberikan umpan balik yang lebih spesifik dan berorientasi pada perkembangan.

Kedua, siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas pemahamannya.

Ketiga, rubrik dapat digunakan sebagai alat refleksi dan self assessment.

Keempat, rubrik mendukung pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman mendalam (deep learning), bukan sekadar reproduksi informasi.

Dengan demikian, rubrik SOLO dapat menjadi salah satu instrumen yang membantu mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada perkembangan siswa.

Penutup

Taksonomi SOLO memberikan kerangka yang kuat untuk mengembangkan rubrik penilaian yang berorientasi pada kualitas pemahaman. Melalui lima level perkembangan—prestructural, unistructural, multistructural, relational, dan extended abstract—guru dapat menggambarkan perkembangan berpikir siswa secara lebih jelas dan sistematis.

Berbeda dengan rubrik tradisional yang sering berfokus pada skor, rubrik berbasis SOLO membantu siswa memahami posisi belajarnya saat ini sekaligus langkah yang perlu ditempuh untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.

Dalam konteks pendidikan yang semakin menekankan pentingnya asesmen formatif, refleksi, dan pembelajaran sepanjang hayat, rubrik SOLO menawarkan pendekatan yang tidak hanya mengukur hasil belajar, tetapi juga membantu mengembangkan kualitas belajar itu sendiri.

Daftar Pustaka

Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.

Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.

Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and classroom learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7–74. https://doi.org/10.1080/0969595980050102

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Earl, L. M. (2013). Assessment as learning: Using classroom assessment to maximize student learning (2nd ed.). Corwin Press.

Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/10.3102/003465430298487

Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Diferensiasi Pembelajaran3 Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar4 Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?5 Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO6 Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO7 SOLO dan Assessment for Learning8 SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar9 Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO10 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran11 Penutup12 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan utama …

Membangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …

Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?3 Lima Level dalam Taksonomi SOLO4 Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit5 Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?6 Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO7 Implikasi bagi Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. …

Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Taksonomi SOLO3 SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar4 Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO5 Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?6 SOLO dan Assessment for Learning7 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa: “Apakah …

Self Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO9 Implikasi bagi Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pendidikan …

Pembelajaran Mendalam

wisnurat

23 Feb 2025

Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …

x
x