Taksonomi SOLO sebagai peta perjalanan
Home » ARTIKEL » Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

wisnurat 06 Jun 2026 19

Pendahuluan

Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa:

“Apakah kalian sudah paham?”

Sebagian besar siswa menjawab bahwa mereka telah memahami materi yang dipelajari. Namun, ketika diminta menjelaskan kembali konsep, menghubungkan berbagai informasi, atau menerapkan pengetahuan pada situasi baru, kualitas respons yang muncul ternyata sangat beragam.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pemahaman bukanlah kondisi yang bersifat dikotomis—sekadar “paham” atau “tidak paham”. Pemahaman berkembang melalui tahapan-tahapan yang menunjukkan kualitas berpikir yang berbeda. Oleh karena itu, guru memerlukan kerangka yang dapat membantu mengidentifikasi dan mengomunikasikan perkembangan kualitas pemahaman siswa secara lebih jelas.

Salah satu kerangka yang banyak digunakan untuk tujuan tersebut adalah Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis (1982). Taksonomi ini memberikan cara sistematis untuk menggambarkan kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa.

Artikel ini membahas bagaimana Taksonomi SOLO dapat dipandang sebagai “peta perjalanan belajar” yang membantu siswa mengenali posisi belajarnya saat ini sekaligus memahami arah perkembangan yang perlu ditempuh untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.

Memahami Taksonomi SOLO

Taksonomi SOLO dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982) untuk mengklasifikasikan kualitas respons siswa terhadap suatu tugas pembelajaran. Berbeda dengan pendekatan yang hanya berfokus pada jumlah informasi yang dimiliki siswa, SOLO menekankan pada bagaimana informasi tersebut diorganisasikan dan dihubungkan dalam struktur pemikiran siswa.

Menurut Biggs dan Collis (1982), kualitas pemahaman berkembang melalui lima level utama:

1. Prestructural
2. Unistructural
3. Multistructural
4. Relational
5. Extended Abstract

Perkembangan ini menggambarkan pergeseran dari pemahaman yang masih terbatas menuju kemampuan mengintegrasikan dan mentransfer pengetahuan ke konteks yang lebih luas.

Dalam perkembangannya, Taksonomi SOLO banyak digunakan sebagai alat untuk merancang pembelajaran, asesmen, dan umpan balik yang berorientasi pada kualitas belajar (Biggs & Tang, 2011).

SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

Secara konseptual, Taksonomi SOLO dapat dianalogikan sebagai peta perjalanan belajar.

Dalam sebuah perjalanan, seseorang perlu mengetahui dua hal:

1. Posisi saat ini.
2. Tujuan yang ingin dicapai.

Prinsip yang sama berlaku dalam proses belajar. Siswa perlu memahami posisi pemahamannya saat ini agar dapat menentukan langkah berikutnya yang diperlukan untuk berkembang.

Analogi ini sejalan dengan pandangan bahwa asesmen yang efektif seharusnya tidak hanya memberikan informasi tentang pencapaian saat ini, tetapi juga membantu siswa memahami tujuan belajar dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapainya (Hattie & Timperley, 2007).

Melalui Taksonomi SOLO, siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kualitas pemahaman yang dimiliki serta target perkembangan yang perlu dicapai.

Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO

1. Prestructural: Ketika Pemahaman Belum Terbentuk

Pada level prestructural, siswa belum menunjukkan pemahaman yang relevan terhadap materi yang dipelajari.

Respons yang diberikan sering kali tidak sesuai dengan tuntutan tugas atau menunjukkan adanya miskonsepsi.

Pada tahap ini, siswa belum memiliki fondasi konseptual yang memadai untuk membangun pemahaman yang lebih kompleks.

Meskipun demikian, level ini tidak dapat dipandang sebagai kegagalan belajar. Dalam perspektif perkembangan kognitif, tahap ini merupakan titik awal yang memberikan informasi penting bagi guru mengenai kebutuhan belajar siswa.

2. Unistructural: Memahami Satu Aspek Penting

Pada level unistructural, siswa mulai memahami satu aspek penting dari suatu konsep.

Misalnya, ketika mempelajari fotosintesis, siswa mampu menjelaskan bahwa proses tersebut menghasilkan oksigen.

Pemahaman mulai terbentuk, tetapi masih terbatas pada satu elemen utama.

Pada tahap ini, guru perlu membantu siswa memperluas cakupan pemahamannya melalui eksplorasi aspek-aspek lain yang relevan.

3. Multistructural: Memahami Beberapa Aspek yang Terpisah

Pada level multistructural, siswa telah memahami beberapa konsep atau informasi yang relevan.

Mereka mampu menyebutkan berbagai fakta penting terkait suatu topik, tetapi belum dapat menjelaskan hubungan antar informasi tersebut.

Dalam istilah Biggs dan Collis (1982), pemahaman pada level ini masih bersifat aditif, yaitu berupa kumpulan informasi yang belum terintegrasi menjadi satu kesatuan makna.

4. Relational: Menghubungkan Berbagai Konsep

Level relational merupakan tahap penting dalam perkembangan pemahaman.

Pada tahap ini siswa tidak hanya mengetahui berbagai informasi, tetapi juga mampu menjelaskan hubungan antar konsep yang dipelajari.

Pengetahuan yang sebelumnya terpisah mulai terintegrasi menjadi struktur pemahaman yang koheren.

Menurut Biggs dan Tang (2011), pembelajaran yang berkualitas ditandai oleh kemampuan siswa membangun hubungan konseptual yang bermakna, bukan sekadar mengingat informasi secara terpisah.

5. Extended Abstract: Mengembangkan dan Mentransfer Pemahaman

Level extended abstract merupakan tahap tertinggi dalam Taksonomi SOLO.

Pada level ini siswa mampu menggunakan pemahaman yang dimiliki untuk menganalisis situasi baru, membuat generalisasi, menyusun hipotesis, atau menghasilkan solusi terhadap permasalahan yang belum pernah dihadapi sebelumnya.

Kemampuan ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mentransfer dan mengembangkan pengetahuan ke konteks yang lebih luas.

Transfer pengetahuan seperti ini merupakan salah satu indikator pembelajaran mendalam (deep learning) yang menjadi tujuan utama pendidikan abad ke-21 (Biggs & Tang, 2011).

Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?

Salah satu kontribusi penting Taksonomi SOLO adalah kemampuannya membantu siswa memahami kualitas pemahamannya sendiri.

Kemampuan untuk memonitor dan mengevaluasi proses berpikir dikenal sebagai metakognisi. Penelitian menunjukkan bahwa metakognisi memiliki hubungan yang kuat dengan keberhasilan belajar karena membantu siswa mengelola strategi belajar secara lebih efektif (Hattie & Donoghue, 2016).

Ketika siswa mampu mengidentifikasi bahwa dirinya masih berada pada level multistructural, misalnya, mereka dapat memahami bahwa tantangan berikutnya bukan lagi menambah informasi baru, melainkan membangun hubungan antar informasi yang telah dipelajari.

Dengan demikian, SOLO tidak hanya berfungsi sebagai alat asesmen bagi guru, tetapi juga sebagai alat refleksi bagi siswa.

SOLO dan Assessment for Learning

Pandangan modern mengenai asesmen menekankan bahwa asesmen seharusnya digunakan untuk mendukung pembelajaran, bukan sekadar mengukur hasil belajar.

Dalam model umpan balik yang dikemukakan oleh Hattie dan Timperley (2007), siswa perlu memperoleh jawaban atas tiga pertanyaan utama:

1. Ke mana saya akan pergi? (Where am I going?)
2. Bagaimana kemajuan saya saat ini? (How am I going?)
3. Apa langkah berikutnya? (Where to next?)

Taksonomi SOLO memiliki potensi besar untuk membantu menjawab ketiga pertanyaan tersebut.

Melalui deskripsi level SOLO, siswa dapat memahami posisi belajarnya saat ini dan menentukan langkah yang diperlukan untuk mencapai kualitas pemahaman yang lebih tinggi.

Dengan demikian, SOLO mendukung praktik assessment for learning dan bahkan assessment as learning, yaitu ketika proses asesmen menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri (Earl, 2013).

Implikasi bagi Praktik Pembelajaran

Jika Taksonomi SOLO digunakan sebagai peta perjalanan belajar, maka guru dapat mengintegrasikannya ke dalam berbagai aspek pembelajaran, antara lain:

  • Membantu siswa mengidentifikasi posisi pemahamannya.
  • Menyusun pertanyaan yang mendorong perkembangan berpikir.
  • Memberikan umpan balik yang berorientasi pada pertumbuhan.
  • Mengembangkan rubrik penilaian yang menunjukkan arah perkembangan belajar.
  • Mendorong refleksi dan self assessment siswa.

Pendekatan ini membantu menggeser fokus pembelajaran dari sekadar pencapaian nilai menuju pengembangan kualitas pemahaman.

Penutup

Taksonomi SOLO yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis memberikan kerangka yang kuat untuk memahami perkembangan kualitas pemahaman siswa. Melalui lima level perkembangan—prestructural, unistructural, multistructural, relational, dan extended abstract—SOLO membantu menggambarkan bagaimana pemahaman berkembang dari tahap yang sederhana menuju kemampuan berpikir yang lebih kompleks dan transferabel.

Ketika digunakan sebagai peta perjalanan belajar, SOLO tidak hanya membantu guru menilai hasil belajar, tetapi juga membantu siswa mengenali posisi belajarnya, memahami tujuan yang ingin dicapai, dan merencanakan langkah-langkah pengembangan yang diperlukan.

Dalam konteks pendidikan yang semakin menekankan pembelajaran bermakna, refleksi diri, dan pengembangan kemampuan belajar sepanjang hayat, Taksonomi SOLO menawarkan kontribusi yang relevan sebagai kerangka untuk mendukung pertumbuhan kualitas pemahaman siswa secara berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.

Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.

Earl, L. M. (2013). Assessment as learning: Using classroom assessment to maximize student learning (2nd ed.). Corwin Press.

Hattie, J., & Donoghue, G. (2016). Learning strategies: A synthesis and conceptual model. npj Science of Learning, 1(1), 1–13. https://doi.org/10.1038/npjscilearn.2016.13

Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/10.3102/003465430298487

Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Diferensiasi Pembelajaran3 Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar4 Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?5 Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO6 Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO7 SOLO dan Assessment for Learning8 SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar9 Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO10 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran11 Penutup12 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan utama …

Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional3 Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik4 Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO5 Contoh Pengembangan Rubrik SOLO6 Rubrik SOLO dan Assessment for Learning7 Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset8 Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO9 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan …

Membangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …

Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?3 Lima Level dalam Taksonomi SOLO4 Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit5 Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?6 Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO7 Implikasi bagi Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. …

Self Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO9 Implikasi bagi Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pendidikan …

Pembelajaran Mendalam

wisnurat

23 Feb 2025

Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …

x
x