Mengidentifikasi Level SOLO
Home » ARTIKEL » Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit

Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit

wisnurat 06 Jun 2026 19

Pendahuluan

Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. Dalam praktik sehari-hari, guru sering memperoleh informasi tentang hasil belajar melalui tes, tugas, atau diskusi kelas. Namun, informasi tersebut belum tentu menggambarkan bagaimana struktur pemahaman siswa sebenarnya.

Seorang siswa mungkin mampu mengingat banyak fakta, tetapi belum mampu menghubungkan fakta-fakta tersebut menjadi sebuah pemahaman yang utuh. Sebaliknya, siswa lain mungkin tidak mampu menghafal banyak informasi, tetapi mampu menjelaskan hubungan antar konsep dengan baik. Jika guru hanya berfokus pada jumlah informasi yang dimiliki siswa, maka kualitas pemahaman yang sesungguhnya dapat terlewatkan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Biggs dan Collis (1982) mengembangkan Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome), sebuah kerangka yang memungkinkan guru menganalisis kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa. Taksonomi ini membantu guru mengidentifikasi posisi belajar siswa dan menentukan langkah pembelajaran berikutnya secara lebih tepat.

Artikel ini membahas bagaimana guru dapat mengidentifikasi level SOLO siswa secara cepat melalui aktivitas pembelajaran sederhana yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar lima menit.

Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?

Dalam banyak situasi pembelajaran, guru cenderung berfokus pada pertanyaan:

“Apakah jawaban siswa benar atau salah?”

Padahal, menurut Biggs dan Collis (1982), pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

“Bagaimana struktur pemahaman yang ditunjukkan oleh jawaban tersebut?”

Taksonomi SOLO dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa kualitas belajar dapat diamati melalui kompleksitas struktur respons siswa terhadap suatu tugas.

Dengan mengetahui level SOLO siswa, guru dapat:

  • memahami posisi belajar siswa saat ini;
  • memberikan umpan balik yang lebih tepat sasaran;
  • merancang pertanyaan yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa;
  • menyusun diferensiasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar;
  • membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses belajarnya.

Dalam perspektif assessment for learning, informasi seperti ini sangat penting karena asesmen tidak hanya berfungsi mengukur hasil belajar, tetapi juga memberikan arah bagi perkembangan belajar berikutnya (Hattie & Timperley, 2007).

Lima Level dalam Taksonomi SOLO

Sebelum melakukan identifikasi, guru perlu memahami karakteristik setiap level SOLO.

Prestructural

Pada level ini siswa belum menunjukkan pemahaman yang relevan terhadap materi yang dipelajari.

Respons siswa sering kali:

  • tidak sesuai dengan pertanyaan;
  • menunjukkan miskonsepsi;
  • atau tidak menunjukkan pemahaman yang bermakna.

Contoh:

Pertanyaan:
Mengapa tumbuhan memerlukan sinar matahari?

Jawaban siswa:
Karena tumbuhan berwarna hijau.

Jawaban tersebut belum menjelaskan hubungan dengan proses fotosintesis sehingga menunjukkan pemahaman yang masih sangat terbatas.

Unistructural

Siswa memahami satu aspek penting dari konsep yang dipelajari.

Contoh:

Tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk membuat makanan.

Siswa telah memahami satu ide penting, tetapi belum mengembangkan penjelasan lebih lanjut.

Multistructural

Siswa memahami beberapa informasi yang relevan, tetapi informasi tersebut masih berdiri sendiri.

Contoh:

Tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis. Tumbuhan juga memerlukan air dan karbon dioksida.

Beberapa konsep telah muncul, tetapi hubungan antar konsep belum dijelaskan.

Relational

Siswa mampu menghubungkan berbagai konsep menjadi satu kesatuan yang bermakna.

Contoh:

Tumbuhan memerlukan sinar matahari karena energi cahaya digunakan bersama air dan karbon dioksida dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan makanan yang dibutuhkan tumbuhan agar dapat tumbuh dan berkembang.

Pada level ini siswa mulai menunjukkan pemahaman yang terintegrasi.

Menurut Biggs dan Tang (2011), kualitas pembelajaran yang baik ditandai oleh kemampuan siswa membangun hubungan konseptual seperti ini.

Extended Abstract

Siswa mampu menggunakan pemahaman yang dimiliki untuk menjelaskan situasi baru atau membuat generalisasi.

Contoh:

Jika intensitas cahaya matahari berkurang akibat polusi udara atau perubahan iklim, proses fotosintesis dapat terganggu sehingga memengaruhi produktivitas tanaman dan ketahanan pangan manusia.

Pada level ini siswa telah melampaui konteks pembelajaran awal dan melakukan transfer pengetahuan ke situasi yang lebih luas.

Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit

Salah satu keunggulan SOLO adalah kemudahan penggunaannya dalam asesmen formatif sehari-hari.

Guru tidak harus menunggu ujian akhir atau tugas besar untuk mengetahui kualitas pemahaman siswa.

Berikut strategi sederhana yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar lima menit.

Langkah 1: Berikan Satu Pertanyaan Terbuka

Pilih satu pertanyaan yang memungkinkan siswa menunjukkan cara berpikirnya.

Contoh:

Mengapa menjaga keseimbangan ekosistem penting bagi kehidupan manusia?

Pertanyaan terbuka lebih efektif dibandingkan pertanyaan pilihan ganda karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan struktur pemahamannya.

Langkah 2: Minta Siswa Menuliskan Jawaban Singkat

Jawaban tidak perlu panjang.

Dua hingga empat kalimat biasanya sudah cukup untuk menunjukkan level pemahaman yang dominan.

Teknik ini dapat dilakukan melalui:

  • kertas kecil (exit ticket);
  • formulir digital;
  • papan tulis interaktif;
  • atau aplikasi pembelajaran daring.

Langkah 3: Analisis Struktur Jawaban

Fokus utama bukan pada panjang jawaban, melainkan kualitas hubungan antargagasan yang muncul.

Guru dapat menggunakan panduan sederhana berikut:

Karakteristik ResponsIndikasi Level SOLO
Tidak relevan atau keliruPrestructural
Menunjukkan satu ide pentingUnistructural
Menunjukkan beberapa ide terpisahMultistructural
Menghubungkan beberapa ideRelational
Mengembangkan atau mentransfer konsepExtended Abstract

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar SOLO yang menekankan kualitas struktur pemahaman daripada kuantitas informasi (Biggs & Collis, 1982).

Langkah 4: Tentukan Tindak Lanjut

Tujuan identifikasi level SOLO bukan sekadar mengelompokkan siswa.

Informasi tersebut harus digunakan untuk mendukung pembelajaran berikutnya.

Misalnya:

  • siswa pada level Unistructural dibantu memperluas pemahamannya;
  • siswa pada level Multistructural dibantu membangun hubungan antar konsep;
  • siswa pada level Relational diberikan tantangan untuk menerapkan konsep pada situasi baru.

Dengan demikian, identifikasi level SOLO menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan hanya aktivitas penilaian.

Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?

Penelitian tentang asesmen formatif menunjukkan bahwa umpan balik yang diberikan selama proses belajar memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa (Hattie & Timperley, 2007).

Namun, umpan balik yang efektif membutuhkan informasi yang akurat tentang kondisi belajar siswa saat ini.

Di sinilah identifikasi level SOLO menjadi penting.

Guru tidak lagi hanya mengetahui apakah siswa menjawab benar atau salah.

Guru juga mengetahui:

  • sejauh mana kualitas pemahaman siswa berkembang;
  • hambatan yang mungkin dialami siswa;
  • dan langkah pembelajaran yang paling sesuai untuk membantu siswa berkembang.

Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO

Meskipun relatif sederhana, terdapat beberapa kesalahan yang sering terjadi.

Terlalu Fokus pada Panjang Jawaban

Jawaban yang panjang tidak selalu menunjukkan level SOLO yang tinggi.

Seorang siswa dapat menulis banyak informasi tetapi tetap berada pada level Multistructural jika belum menunjukkan hubungan antar konsep.

Menganggap SOLO Sebagai Label Siswa

SOLO menggambarkan kualitas respons terhadap tugas tertentu, bukan kemampuan tetap seorang siswa.

Seorang siswa dapat menunjukkan level Relational pada satu topik dan level Unistructural pada topik lainnya.

Karena itu, SOLO sebaiknya digunakan untuk menggambarkan posisi belajar saat ini, bukan identitas siswa.

Mengabaikan Tindak Lanjut

Identifikasi level SOLO hanya akan bermakna jika digunakan untuk memperbaiki pembelajaran.

Tanpa tindak lanjut, proses identifikasi hanya menjadi aktivitas klasifikasi yang tidak memberikan dampak nyata bagi perkembangan belajar siswa.

Implikasi bagi Pembelajaran

Kemampuan mengidentifikasi level SOLO secara cepat membuka peluang bagi guru untuk menerapkan pembelajaran yang lebih responsif.

Informasi tentang level SOLO siswa dapat digunakan untuk:

  • merancang pertanyaan yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa;
  • memberikan umpan balik yang lebih spesifik;
  • mengembangkan rubrik penilaian yang berorientasi pada perkembangan;
  • mendukung self assessment siswa;
  • dan menerapkan diferensiasi pembelajaran berdasarkan kebutuhan belajar.

Dengan demikian, identifikasi level SOLO tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi fondasi bagi berbagai praktik pembelajaran yang berorientasi pada pertumbuhan pemahaman.

Penutup

Taksonomi SOLO memberikan kerangka yang kuat untuk memahami kualitas pemahaman siswa berdasarkan struktur respons yang ditunjukkan dalam pembelajaran. Melalui identifikasi sederhana yang dapat dilakukan hanya dalam beberapa menit, guru dapat memperoleh informasi yang lebih bermakna dibanding sekadar mengetahui apakah jawaban siswa benar atau salah.

Dengan memahami apakah siswa berada pada level prestructural, unistructural, multistructural, relational, atau extended abstract, guru memperoleh peta yang lebih jelas tentang posisi belajar siswa dan langkah yang diperlukan untuk membantu mereka berkembang.

Dalam konteks pembelajaran yang berorientasi pada asesmen formatif dan pengembangan pemahaman mendalam, kemampuan mengidentifikasi level SOLO secara cepat merupakan keterampilan penting yang dapat membantu guru mengambil keputusan pembelajaran secara lebih tepat dan efektif.

Daftar Pustaka

Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.

Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.

Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112. https://doi.org/10.3102/003465430298487

Hattie, J., & Donoghue, G. (2016). Learning strategies: A synthesis and conceptual model. npj Science of Learning, 1(1), 1–13. https://doi.org/10.1038/npjscilearn.2016.13

Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Diferensiasi Pembelajaran3 Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar4 Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?5 Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO6 Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO7 SOLO dan Assessment for Learning8 SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar9 Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO10 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran11 Penutup12 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan utama …

Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional3 Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik4 Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO5 Contoh Pengembangan Rubrik SOLO6 Rubrik SOLO dan Assessment for Learning7 Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset8 Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO9 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan …

Membangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …

Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Taksonomi SOLO3 SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar4 Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO5 Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?6 SOLO dan Assessment for Learning7 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa: “Apakah …

Self Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO9 Implikasi bagi Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pendidikan …

Pembelajaran Mendalam

wisnurat

23 Feb 2025

Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …

x
x