Diferensiasi pembelajaran
Home » ARTIKEL » Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO

Diferensiasi Pembelajaran Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat 07 Jun 2026 13

Pendahuluan

Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran adalah kenyataan bahwa siswa tidak belajar dengan titik awal yang sama. Dalam satu kelas, guru dapat menemukan siswa yang masih berusaha memahami konsep dasar, siswa yang telah menguasai berbagai informasi penting, dan siswa yang mampu menghubungkan konsep serta menerapkannya pada situasi baru.

Keragaman ini menuntut guru untuk merancang pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan belajar siswa. Dalam konteks inilah konsep diferensiasi pembelajaran menjadi relevan. Menurut Tomlinson (2017), diferensiasi merupakan upaya sistematis guru untuk menyesuaikan isi, proses, produk, atau lingkungan belajar berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa.

Meskipun demikian, salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam praktik adalah:

Bagaimana guru dapat mengidentifikasi kesiapan belajar siswa secara lebih akurat?

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan diferensiasi sangat bergantung pada kualitas informasi yang digunakan guru untuk memahami kondisi belajar siswa.

Salah satu kerangka yang dapat membantu menjawab kebutuhan tersebut adalah Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome) yang dikembangkan oleh Biggs dan Collis (1982). Taksonomi SOLO memungkinkan guru mengidentifikasi kualitas pemahaman siswa melalui struktur respons yang mereka tunjukkan dalam pembelajaran.

Artikel ini membahas bagaimana Taksonomi SOLO dapat digunakan sebagai landasan untuk merancang diferensiasi pembelajaran yang lebih terarah, sehingga setiap siswa memperoleh tantangan belajar yang sesuai dengan tingkat pemahamannya.

Memahami Diferensiasi Pembelajaran

Diferensiasi sering kali disalahartikan sebagai pemberian tugas yang berbeda kepada setiap siswa.

Padahal, menurut Tomlinson (2017), esensi diferensiasi bukanlah membuat pembelajaran menjadi berbeda untuk setiap individu secara ekstrem, melainkan memastikan bahwa setiap siswa memperoleh peluang belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan belajarnya.

Diferensiasi dapat dilakukan melalui beberapa aspek, antara lain:

  • Diferensiasi konten, yaitu menyesuaikan materi atau sumber belajar.
  • Diferensiasi proses, yaitu menyesuaikan aktivitas belajar.
  • Diferensiasi produk, yaitu menyesuaikan bentuk demonstrasi hasil belajar.
  • Diferensiasi lingkungan belajar, yaitu menyesuaikan kondisi yang mendukung proses belajar.

Semua bentuk diferensiasi tersebut memerlukan informasi yang akurat tentang kondisi belajar siswa.

Di sinilah Taksonomi SOLO dapat memberikan kontribusi yang signifikan.

Taksonomi SOLO sebagai Alat Memetakan Kesiapan Belajar

Taksonomi SOLO dikembangkan untuk menggambarkan kualitas hasil belajar berdasarkan struktur pemahaman yang ditunjukkan siswa (Biggs & Collis, 1982).

Taksonomi ini terdiri atas lima level perkembangan:

  1. Prestructural
  2. Unistructural
  3. Multistructural
  4. Relational
  5. Extended Abstract

Setiap level menunjukkan kualitas pemahaman yang berbeda.

Perkembangan dari satu level ke level berikutnya tidak hanya menunjukkan bertambahnya informasi yang dimiliki siswa, tetapi juga menunjukkan perubahan dalam cara siswa mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan.

Menurut Biggs dan Tang (2011), kualitas belajar yang tinggi ditandai oleh kemampuan siswa membangun hubungan konseptual yang bermakna dan mentransfer pemahaman ke situasi baru.

Karena itu, SOLO dapat digunakan sebagai peta untuk memahami kesiapan belajar siswa secara lebih mendalam dibandingkan sekadar melihat nilai atau skor tes.

Mengapa SOLO Relevan untuk Diferensiasi?

Dalam banyak praktik pembelajaran, diferensiasi dilakukan berdasarkan asumsi umum mengenai kemampuan siswa.

Misalnya:

  • siswa dengan nilai tinggi diberi tugas yang lebih sulit;
  • siswa dengan nilai rendah diberi tugas yang lebih mudah.

Pendekatan tersebut memang praktis, tetapi tidak selalu mencerminkan kualitas pemahaman yang sebenarnya.

Seorang siswa dapat memperoleh nilai tinggi karena kemampuan mengingat informasi, tetapi belum tentu mampu menghubungkan konsep secara mendalam.

Sebaliknya, siswa lain mungkin belum menguasai banyak informasi, tetapi telah menunjukkan kemampuan berpikir relasional yang baik.

Taksonomi SOLO membantu guru melihat kualitas pemahaman di balik skor yang diperoleh siswa.

Dengan demikian, diferensiasi dapat dirancang berdasarkan kebutuhan konseptual siswa, bukan semata-mata berdasarkan hasil tes.

Diferensiasi Berdasarkan Level SOLO

Salah satu cara paling sederhana menggunakan SOLO dalam diferensiasi adalah dengan menyesuaikan tingkat kompleksitas tugas sesuai level pemahaman siswa.

Siswa pada Level Prestructural

Siswa pada level ini masih mengalami kesulitan memahami konsep dasar.

Fokus pembelajaran sebaiknya diarahkan pada:

  • pengenalan konsep inti;
  • klarifikasi miskonsepsi;
  • penggunaan contoh konkret;
  • pendampingan yang lebih intensif.

Tujuan utamanya adalah membantu siswa membangun fondasi pemahaman yang relevan.

Siswa pada Level Unistructural

Siswa telah memahami satu aspek penting dari konsep yang dipelajari.

Strategi yang dapat digunakan antara lain:

  • memperluas cakupan informasi;
  • memberikan contoh tambahan;
  • mengajukan pertanyaan eksploratif sederhana.

Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa mengembangkan pemahaman terhadap lebih banyak aspek yang relevan.

Siswa pada Level Multistructural

Siswa memahami beberapa konsep penting tetapi belum memahami hubungan di antaranya.

Pada tahap ini guru dapat:

  • menggunakan peta konsep;
  • mengajak siswa membandingkan informasi;
  • mendorong diskusi tentang hubungan sebab-akibat;
  • memberikan tugas yang menuntut integrasi beberapa gagasan.

Fokus utamanya adalah membantu siswa membangun keterkaitan antar konsep.

Siswa pada Level Relational

Siswa telah mampu mengintegrasikan berbagai konsep menjadi satu kesatuan yang bermakna.

Strategi yang sesuai antara lain:

  • studi kasus;
  • pemecahan masalah kompleks;
  • analisis fenomena nyata;
  • proyek berbasis investigasi.

Tujuannya adalah memperdalam pemahaman dan meningkatkan kemampuan penerapan konsep.

Siswa pada Level Extended Abstract

Siswa mampu melakukan transfer pengetahuan ke situasi baru dan menghasilkan generalisasi yang lebih luas.

Guru dapat memberikan:

  • proyek penelitian sederhana;
  • tugas berbasis inovasi;
  • debat akademik;
  • analisis isu lintas disiplin;
  • kegiatan pengembangan solusi terhadap masalah nyata.

Pada tahap ini siswa didorong untuk menghasilkan gagasan baru dan mengembangkan perspektif yang lebih luas.

Diferensiasi Pertanyaan Menggunakan SOLO

Selain diferensiasi tugas, SOLO juga dapat digunakan untuk merancang pertanyaan yang berbeda sesuai kualitas pemahaman siswa.

Sebagai contoh pada topik perubahan iklim:

Unistructural

Apa yang dimaksud dengan perubahan iklim?

Multistructural

Sebutkan beberapa faktor yang menyebabkan perubahan iklim.

Relational

Bagaimana hubungan antara aktivitas manusia dan perubahan iklim global?

Extended Abstract

Bagaimana kebijakan pembangunan suatu negara dapat dirancang untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa depan?

Rangkaian pertanyaan tersebut memungkinkan guru memberikan tantangan belajar yang sesuai dengan posisi pemahaman siswa.

SOLO dan Assessment for Learning

Salah satu kekuatan utama penggunaan SOLO dalam diferensiasi adalah keterkaitannya dengan asesmen formatif.

Menurut Black dan Wiliam (1998), asesmen formatif yang efektif memberikan informasi yang dapat digunakan untuk menyesuaikan proses pembelajaran selama pembelajaran berlangsung.

Identifikasi level SOLO dapat dilakukan melalui:

  • diskusi kelas;
  • tugas singkat;
  • exit ticket;
  • refleksi siswa;
  • asesmen formatif lainnya.

Informasi yang diperoleh kemudian digunakan untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Dengan demikian, asesmen dan diferensiasi tidak dipandang sebagai dua proses yang terpisah, melainkan saling mendukung satu sama lain.

SOLO, Zona Perkembangan, dan Tantangan Belajar

Meskipun berasal dari tradisi teori yang berbeda, penggunaan SOLO dalam diferensiasi memiliki kesesuaian dengan gagasan Zone of Proximal Development (ZPD) yang dikemukakan oleh Lev Vygotsky.

Vygotsky menjelaskan bahwa pembelajaran paling efektif terjadi ketika siswa memperoleh tantangan yang sedikit berada di atas kemampuan aktualnya, tetapi masih dapat dicapai dengan bantuan yang tepat.

Dalam konteks SOLO, guru dapat menggunakan informasi tentang level pemahaman siswa untuk menentukan tantangan yang berada pada “langkah berikutnya” dalam perkembangan belajar.

Misalnya:

  • siswa pada level Unistructural dibantu menuju Multistructural;
  • siswa pada level Multistructural dibantu menuju Relational;
  • siswa pada level Relational didorong menuju Extended Abstract.

Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara dukungan dan tantangan dalam pembelajaran.

Tantangan dalam Implementasi Diferensiasi Berbasis SOLO

Meskipun menjanjikan, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.

Menganggap SOLO Sebagai Label Tetap

SOLO menggambarkan kualitas respons terhadap suatu tugas tertentu, bukan kemampuan permanen siswa (Biggs & Collis, 1982).

Karena itu, guru perlu menghindari pelabelan seperti:

“Siswa ini level Multistructural.”

Yang lebih tepat adalah:

“Pada tugas ini, siswa menunjukkan karakteristik level Multistructural.”

Membuat Kelompok yang Kaku

Diferensiasi berbasis SOLO tidak berarti membagi siswa ke dalam kelompok tetap.

Karena kualitas pemahaman dapat berubah sesuai konteks dan materi, pengelompokan perlu bersifat fleksibel dan dinamis.

Terlalu Berfokus pada Klasifikasi

Tujuan utama penggunaan SOLO bukan mengelompokkan siswa, melainkan membantu mereka berkembang menuju kualitas pemahaman yang lebih tinggi.

Karena itu, perhatian utama harus tetap pada pengembangan pembelajaran, bukan pada kategorisasi.

Implikasi bagi Praktik Pembelajaran

Penggunaan SOLO dalam diferensiasi memberikan beberapa manfaat penting.

Pertama, guru memperoleh informasi yang lebih kaya mengenai kualitas pemahaman siswa.

Kedua, diferensiasi menjadi lebih terarah karena didasarkan pada struktur pemahaman, bukan hanya nilai.

Ketiga, siswa memperoleh tantangan belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Keempat, pembelajaran menjadi lebih berorientasi pada perkembangan kualitas berpikir daripada sekadar penguasaan informasi.

Dengan demikian, SOLO dapat membantu mewujudkan pembelajaran yang lebih inklusif, responsif, dan berorientasi pada pertumbuhan.

Penutup

Taksonomi SOLO menawarkan kerangka yang kuat untuk memahami kualitas pemahaman siswa dan menggunakannya sebagai dasar diferensiasi pembelajaran. Melalui identifikasi level SOLO, guru dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kesiapan belajar siswa dan merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.

Meskipun SOLO bukan teori diferensiasi itu sendiri, penggunaan SOLO sebagai alat untuk memetakan kualitas pemahaman memberikan landasan yang kuat bagi penerapan diferensiasi yang lebih bermakna. Ketika diferensiasi tidak lagi hanya didasarkan pada nilai atau kemampuan umum, tetapi pada kualitas struktur pemahaman siswa, pembelajaran menjadi lebih mampu mendukung perkembangan setiap individu secara optimal.

Daftar Pustaka

Biggs, J. B., & Collis, K. F. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy (Structure of the Observed Learning Outcome). Academic Press.

Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university (4th ed.). Open University Press.

Black, P., & Wiliam, D. (1998). Assessment and classroom learning. Assessment in Education: Principles, Policy & Practice, 5(1), 7–74. https://doi.org/10.1080/0969595980050102

Tomlinson, C. A. (2017). How to differentiate instruction in academically diverse classrooms (3rd ed.). ASCD.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.

Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Mengubah Rubrik Penilaian Menjadi Rubrik Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Keterbatasan Rubrik Penilaian Tradisional3 Taksonomi SOLO sebagai Dasar Pengembangan Rubrik4 Karakteristik Rubrik Berbasis SOLO5 Contoh Pengembangan Rubrik SOLO6 Rubrik SOLO dan Assessment for Learning7 Rubrik SOLO dan Pengembangan Growth Mindset8 Tantangan dalam Implementasi Rubrik SOLO9 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Rubrik merupakan salah satu instrumen penilaian yang banyak digunakan …

Membangun Budaya Belajar Berbasis SOLO di Kelas

wisnurat

07 Jun 2026

Daftar Isi1 Ketika Belajar Hanya Berorientasi pada Nilai2 SOLO Sebagai Bahasa Belajar3 Seperti Apa Budaya Belajar Berbasis SOLO?4 Dari Self Assessment Menuju Kesadaran Belajar5 Ketika Rubrik, Pertanyaan, dan Diferensiasi Saling Terhubung6 Tanda-Tanda Budaya SOLO Mulai Tumbuh7 Membangun Budaya Membutuhkan Waktu8 Penutup Selama beberapa tahun terakhir, Taksonomi SOLO semakin dikenal di kalangan guru. Banyak pendidik mulai …

Mengidentifikasi Level SOLO Siswa dalam 5 Menit

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Mengapa Guru Perlu Mengidentifikasi Level SOLO?3 Lima Level dalam Taksonomi SOLO4 Mengidentifikasi Level SOLO dalam 5 Menit5 Mengapa Identifikasi Cepat Ini Penting?6 Tantangan dalam Mengidentifikasi Level SOLO7 Implikasi bagi Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Salah satu tantangan yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran adalah memahami kualitas pemahaman siswa secara cepat dan akurat. …

Taksonomi SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Memahami Taksonomi SOLO3 SOLO sebagai Peta Perjalanan Belajar4 Lima Tahap Perjalanan Belajar dalam Taksonomi SOLO5 Mengapa Siswa Perlu Mengenal Posisi Belajarnya?6 SOLO dan Assessment for Learning7 Implikasi bagi Praktik Pembelajaran8 Penutup9 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pembelajaran, guru sering menghadapi situasi yang menarik. Setelah menjelaskan suatu materi, guru bertanya kepada siswa: “Apakah …

Self Assessment Siswa Menggunakan Taksonomi SOLO

wisnurat

06 Jun 2026

Daftar Isi1 Pendahuluan2 Self Assessment dalam Perspektif Pembelajaran Modern3 Taksonomi SOLO sebagai Kerangka Refleksi Belajar4 Mengenalkan Bahasa SOLO kepada Siswa5 SOLO dan Pengembangan Metakognisi6 Praktik Self Assessment Berbasis SOLO di Kelas7 Dari Assessment of Learning Menuju Assessment as Learning8 Tantangan dalam Implementasi Self Assessment SOLO9 Implikasi bagi Pembelajaran10 Penutup11 Daftar Pustaka Pendahuluan Dalam praktik pendidikan …

Pembelajaran Mendalam

wisnurat

23 Feb 2025

Daftar Isi1 Apa Itu Pembelajaran Mendalam?2 Unsur-Unsur Pembelajaran Mendalam3 Kenapa Ini Penting untuk Kita?4 Contoh Penerapan di Kelas5 Kesimpulan6 Daftar Pustaka Halo, rekan-rekan okeguru! Apa kabar? Kali ini, saya ingin berbagi tentang paparan menarik dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (PUSKURJAR) yang dirilis Januari 2025. Judul besarnya adalah “Pembelajaran Mendalam: Transformasi Pembelajaran Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua”. …

x
x