library, books, discussion, learning, education, group, reading, academic, literature, scholars, community, knowledge, shelves, research, interaction, classic, table, study, people, interest, ai generated-10171008.jpg
Home » MODEL PEMBELAJARAN » Penggunaan Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran

Penggunaan Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran

wisnurat 18 Apr 2026 32

Bayangkan, saat temen-temen sedang mengajar. Seorang siswa mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan temen-temen. Dalam hati, bertanya: “Apakah jawabannya benar? Apakah dia benar-benar paham, atau hanya mengulang hafalan?”

Tanpa alat bantu yang jelas, kita sering menilai siswa hanya dari benar atau salah. Padahal, proses berpikir mereka bisa sangat beragam. Di sinilah Taksonomi SOLO menjadi seperti pisau Swiss army bagi guru. Sederhana, serbaguna, dan siap dipakai dalam berbagai situasi sehari-hari.

Sebelum kita masuk ke cara pakainya, mari kita review dulu empat level berpikir menurut SOLO. Karena tanpa memahami levelnya, kita tidak akan tahu kemana siswa akan kita arahkan.

SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) membagi kualitas pemahaman menjadi 4 tingkatan:

1. Unistructural
Pada level pertama (unistructural), siswa hanya mengingat satu fakta/ide relevan.
Contohnya: “Apa itu kemerdekaan?”. Siswa menjawab : “Bebas dari penjajah.”

2. Multistructural
Di level kedua ini, siswa menyebut banyak fakta, tapi belum bisa menghubungkan.
Misal diberikan pertanyaan : “Sebutkan makna kemerdekaan!” Siswa menjawab : “Bebas, berdaulat, punya bendera sendiri, bisa memilih pemimpin.” (Semua benar, tapi lepas-lepas.)

3. Relational
Tingkatan level ketigas (relational), siswa menghubungkan fakta-fakta itu menjadi satu kesatuan yang utuh.
Siswa menjawab dengan pernyataan seperti ini : “Kemerdekaan berarti bebas dari penjajah, sehingga bangsa bisa menentukan nasib sendiri, memilih pemimpin, dan mengelola sumber daya”. Ketiganya saling terkait.”

4. Extended Abstract
Siswa menghubungkan konsep dengan teori atau situasi lain yang lebih luas.
Misal, siswa menjawab seperti ini : “Kemerdekaan tidak hanya politik, tapi juga berkaitan dengan teori keadilan sosial dan kemandirian ekonomi. Bahkan di era digital, kemerdekaan informasi menjadi tantangan baru.”

Dengan memahami keempat level ini, kita bisa melihat posisi siswa saat ini dan memutuskan langkah selanjutnya. Sekarang, mari kita lihat bagaimana SOLO digunakan dalam keseharian mengajar.

1. Merumuskan Tujuan Belajar yang Jelas dan Terukur

Masalah umum Guru sering menulis tujuan seperti “Siswa memahami konsep fotosintesis”. Apa artinya “memahami”? Kabur.

Dengan menggunakan taksonomi SOLO, dapat digunakan kata kerja yang sesuai level, seperti ini :
Unistructural: “Siswa menyebutkan satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis.”
Multistructural: “Siswa menyebutkan minimal tiga faktor yang mempengaruhi fotosintesis.”
Relational: “Siswa menjelaskan hubungan antara cahaya, air, dan karbon dioksida dalam fotosintesis.”
Extended: “Siswa memprediksi dampak perubahan iklim terhadap laju fotosintesis global.”

Bagaimana mengimplementasikannya ?

Tulis tujuan di papan tulis dengan level yang ingin dicapai.
Misalnya: “Hari ini kita naik ke level Relational, ya. Bukan hanya hafal faktor, tapi harus bisa menghubungkannya.”

2. Membuat Kriteria Keberhasilan (Rubrik)

Masalah yang sering dilakukan adalah memberikan penilaian subjektif. Siswa A dan B menjawab beda, tapi dapat nilai sama.

Dengan menggunakan taksonomi SOLO, bisa dibuat rubrik, seperti ini :

LevelKriteria Jawaban
UnistructuralMenyebut 1 penyebab banjir
MultistructuralMenyebut 3-4 penyebab tanpa hubungan
RelationalMenjelaskan bagaimana penyebab saling mempengaruhi
ExtendedMenghubungkan dengan kebijakan tata ruang atau perubahan iklim

Implementasinya, temen-temen bisa menempelkan rubrik ini di kelas atau bagikan ke siswa sebelum ujian. Mereka jadi tahu persis apa yang dinilai.

3. Diferensiasi Pembelajaran (Melayani Beda Kemampuan)

Masalah yang biasa ditemukan, dalam satu kelas, ada siswa yang masih di level unistructural, ada yang sudah relational. Guru bingung memberi tugas yang cocok untuk semua.

Solusinya, bisa dengan memberikan tugas berjenjang, seperti ini :
– Siswa level unistructural, diberi tugas : “Temukan satu fakta penting dari teks ini.”
– Kemudian siswa pada level multistructural, diberi tugas : “Temukan lima fakta penting.”
– Sedangkan siswa pada level relational diberi tugas : “Buat diagram yang menunjukkan hubungan kelima fakta itu.”
– Pada siswa level extended diberi tugas : “Hubungkan fakta-fakta ini dengan topik yang sudah kita pelajari minggu lalu.”

Cara pakai: Siapkan kartu tugas berbeda warna. Biarkan siswa memilih level yang sesuai (atau Anda tugaskan berdasarkan asesmen awal).

4. Penilaian Diri untuk Membangun Kesadaran Belajar

Siswa sering tidak tahu seberapa dalam pemahamannya. Mereka bilang “Sudah paham”, padahal masih multistructural.

Masalah tersebut bisa diselesaikan dengan mengajak siswa merefleksi jawabannya sendiri dengan pertanyaan pemandu seperti ini :
Unistructural: “Apakah aku hanya menyebut satu hal?” → Level 1
Multistructural: “Apakah aku menyebut banyak hal tapi tidak menjelaskan hubungannya?” → Level 2
Relational : “Apakah aku sudah menjelaskan bagaimana hal-hal itu saling terkait?” → Level 3
Extended: “Apakah aku bisa menghubungkannya dengan materi lain atau kehidupan nyata?” → Level 4

Setelah memberikan tugas, temen-temen bisa implementasikan dengan minta siswa untuk menulis di kertas: “Menurutku jawabanku ada di level … karena …” Ini melatih metakognisi.

5. Penilaian Teman Sebaya yang Produktif

Masalah ini sangat banyak dialami. Saat diminta menilai teman, siswa sering asal kasih nilai atau hanya bilang “bagus” atau “kurang”.

Teme-temen bisa memberikan mereka lembar cek SOLO sederhana. Misalnya seperti ini :
[ … ] Temanku menyebut 1 ide? (Level 1)
[ … ] Temanku menyebut banyak ide? (Level 2)
[ … ] Temanku menghubungkan ide-ide itu? (Level 3)
[ … ] Temanku menghubungkan ke teori lain? (Level 4)

Implementasinya dengan mengelompokkan siswa secara berpasangan. Kemudian, minta mereka membaca jawaban teman, lalu memberi tanda centang pada level yang sesuai. Diskusikan hasilnya.

6. Memberi Umpan Balik yang Spesifik dan Memotivasi

Ini pernah saya alami. Ketika menuliskan umpan balik kepada siswa di buku tugasnya. Umpan balik sering terlalu umum. Misalnya menuliskan “Kurang lengkap” atau diberi tambahan “Coba lebih rinci”. Ini membuat siswa jadi bingung, harus apa.

Nah, temen-temen bisa gunakan bahasa SOLO. Contohnya seperti ini :
Misal saja tugasnya “kurang lengkap”. Temen-temen bisa katakan atau tulis: “Jawabanmu masih di level multistructural karena kamu sudah menyebut tiga penyebab, tapi belum menjelaskan hubungannya. Coba tambahkan kalimat yang menghubungkan, nanti naik ke level relational.”
Atau, katakan seperti ini : “Wah, kamu sudah sampai level relational! Selanjutnya, tantangan ke level extended, bisakah kamu hubungkan dengan topik lain?”

Cara ini bisa temen-temen implementasikan saat mengoreksi tugas, tuliskan level yang dicapai siswa dan satu kalimat saran untuk naik ke level berikutnya.

7. Menyusun Pertanyaan dari Mudah ke Sulit

Sering kali kita hanya memberi pertanyaan level rendah (hafalan) atau langsung lompat ke soal sulit tanpa melalui tahapan pertanyaan yang terstruktur.

Temen-temen bisa gunakan taksonomi SOLO untuk merancang seri pertanyaan pada satu topik. Saya berikan contoh seperti ini :

Contoh topiknya : Sistem pencernaan manusia

Unistructural: “Apa nama organ pertama dalam sistem pencernaan?” (Mulut)
Multistructural: “Sebutkan organ-organ dalam sistem pencernaan secara berurutan.”
Relational: “Jelaskan bagaimana makanan diubah di mulut, lambung, dan usus. Apa perbedaan proses di ketiga tempat itu?”
Extended: “Bandingkan sistem pencernaan manusia dengan sistem pencernaan sapi. Apa implikasi perbedaan itu terhadap pola makan kedua makhluk?”

Cara mengimplementasikannya, temen-temen bisa siapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam kuis, Lembar Kerja Siswa, atau diskusi kelompok. Biarkan siswa memulai dari level yang mudah, lalu naik perlahan.

Jadi, temen-temen, taksonomi SOLO bukan hanya teori yang indah di buku pedagogi. Ia adalah alat kerja harian yang:

– Membantu guru merencanakan pembelajaran dengan lebih terstruktur,
– Membantu siswa melihat posisi berpikir mereka saat ini,
– Memberikan bahasa yang sama untuk diskusi tentang kualitas pemahaman, dan
– Memotivasi karena setiap orang bisa naik level, tidak ada yang “bodoh” selamanya.

Dengan SOLO, Anda tidak perlu lagi menebak-nebak apakah siswa benar-benar paham. Anda bisa mengamati struktur hasil belajar mereka, lalu dengan percaya diri berkata, “Hari ini kita akan naik dari level multistructural ke relational. Ayo, kita sambung potongan-potongan pengetahuan kalian!”

Semoga bermanfaat
Salam inovasi salam implementasi


Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Taxonomi SOLO

wisnurat

18 Apr 2026

Daftar Isi1 Pernahkah temen-temen bertanya-tanya, “Sebenarnya, apa yang terjadi di dalam pikiran siswa ketika mereka belajar?”2 Latarbelakang Masalah3 Empat Tingkatan Berfikir SOLO4 1. Unistructural – Satu Fakta, Satu Ide5 2. Multistructural – Banyak Fakta, Tapi Masih Lepas-Lepas6 3. Relational. Menghubungkan (Di Sinilah Pemahaman Sejati Mulai Terbentuk)7 4. Extended Abstract – Melompat ke Teori Lain (Level …

Lembar Kerja Siswa PjBL

wisnurat

25 Mar 2026

Daftar Isi1 Kesalahpahaman Penggunaan Lembar Kerja Siswa2 Rubrik Penilaian3 Download LSK dan Rubrik Penilaian Supaya lebih terarah, Lembar Kerja Siswa (LKS) bisa jadi media pembelajaran berbasis proyek. Saya coba rancang LKS PjBL dengan pendekatan manajemen PDCA. Format LKS ini bisa temen-temen gunakan atau bisa juga dikembangkan sesuai kompleksitas proyek yang dilakukan. Kesalahpahaman Penggunaan Lembar Kerja …

Perencanaan PjBL Berbasis PDCA. Mengatasi Sampah Daun di Lingkungan Sekolah

wisnurat

24 Mar 2026

Daftar Isi1 Judul Proyek2 Tujuan Pembelajaran3 Tahap PLAN4 Tahap DO5 Tahap CHECK6 Tahap ACT7 Daftar Pustaka Temen-temen okeguru, salah satu sumber proyek yang sangat baik sebenarnya berasal dari masalah nyata di lingkungan sekolah. Misalnya, banyak sekolah memiliki pohon yang rindang tetapi menghasilkan sampah daun yang berserakan setiap hari. Masalah sederhana ini dapat dijadikan proyek pembelajaran …

Integrasi PDCA dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

wisnurat

24 Mar 2026

Daftar Isi1 “Mengintegrasikan PDCA dengan pembelajaran PjBL. Apakah beneran bisa ?”2 Hubungan PjBL dan PDCA3 Daftar Pustaka “Mengintegrasikan PDCA dengan pembelajaran PjBL. Apakah beneran bisa ?” Temen-temen okeguru. Salah satu tantangan dalam menerapkan Project-Based Learning (PjBL) adalah siswa sering kali kebingungan ketika harus merencanakan dan mengelola proyek mereka sendiri. Banyak proyek akhirnya tidak berjalan optimal …

Prinsip PDCA dalam Pembelajaran di Jenjang Menengah

wisnurat

23 Mar 2026

Daftar Isi1 “Siklus PDCA. Apa benar bisa diimplementasikan dalam proses pembelajaran ?”2 1. Tahap Plan (Perencanaan)3 2. Tahap Do (Pelaksanaan)4 3. Tahap Check (Evaluasi)5 4. Tahap Act (Perbaikan)6 Daftar Pustaka “Siklus PDCA. Apa benar bisa diimplementasikan dalam proses pembelajaran ?” Temen-temen okeguru, dalam praktik pembelajaran kita sering menemukan bahwa siswa sebenarnya mampu mengerjakan tugas atau …

Desain Learning Log Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

12 Aug 2025

Daftar Isi1 Cara Membuat Learning Log2 Manfaat untuk Guru dan Siswa3 Contoh Learning Log Temen-temen okeguru, learning log itu ibarat “buku catatan perjalanan belajar” siswa. Nah, Taksonomi SOLO bisa dipakai sebagai kerangka untuk menyusunnya, supaya siswa tidak hanya mencatat apa yang mereka lakukan, tapi juga mengukur sejauh mana tingkat pemahaman mereka berkembang. Learning log yang …

x
x