Home » MODEL PEMBELAJARAN » Model Pembelajaran Artikulasi

Model Pembelajaran Artikulasi

wisnurat 04 Dec 2023 2.773

“Artikulasi adalah kejelasan pengucapan kata-kata saat berbicara atau bernyanyi, yang dihasilkan melalui gerakan terkoordinasi lidah, bibir, rahang, dan langit-langit mulut.”

Model Pembelajaran Artikulasi

Apa hubungannya dengan model pembelajaran artikulasi?

Sebelum menjawab pertanyaan itu. Yuk kita review sejenak tentang kompetensi abad 21. Pastinya temen – temen sudah tidak asing lagi dengan 4C, kompetensi abad 21. Yaitu seperangkat keterampilan, pengetahuan, dan atribut yang diperlukan untuk berhasil di era digital dan global, dengan fokus utama pada Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreativitas), Collaboration (kolaborasi), dan Communication (komunikasi).

Lalu bagaimana dengan kondisi siswa kita di dalam kelas ? Saat ditanya :
“Ada pertanyaan ?”
“Siapa yang belum mengerti ?”
“Oke, siapa yang bisa menyampaikan poin utama yang kita pelajari tadi?”
Sebagian besar, siswa terdiam dan sedikit yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan gurunya.

Ini terjadi bisa jadi karena siswa belum terbiasa. Atau siswa enggan mengkomunikasikan karena kelu dalam menarasikan ide dalam pikirannya.

Model pembelajaran hadir untuk memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Tidak hanya itu saja, model pembelajaran memberikan pembiasaan dalam penyelesaian masalah. Salah satu model pembelajaran yang menitik beratkan pada peningkatan kemampuan siswa dalam berkomunikasi adalah Model Pembelajaran Artikulasi.

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Suyatno pada tahun 1994 dan telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa di berbagai mata pelajaran.

Model Pembelajaran Artikulasi

Berikut beberapa keunggulan yang bisa didapat siswa saat menggunakan model pembelajaran ini, antara lain:

1. Meningkatkan Keterampilan Komunikasi
Siswa belajar untuk menyampaikan informasi secara jelas, runtut, dan mudah dipahami oleh teman-temannya.

2. Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis
Siswa belajar untuk menganalisis dan memahami materi pelajaran dengan cara mereka sendiri.

3. Meningkatkan Keterampilan Kerja Sama
Siswa belajar untuk bekerja sama dalam kelompok dan saling membantu untuk mencapai tujuan bersama.

4. Meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa menjadi lebih terlibat dalam proses belajar karena mereka merasa dihargai dan didorong untuk berpartisipasi aktif.

Implementasinya

Model pembelajaran ini bisa diimplementasikan diberbagai mata pelajaran, baik mata pelajaran eksakta maupun non-eksakta. Temen-temen bisa mengikuti langkah-langkah implementasinya seperti berikut:

1. Persiapan
Temen-temen bisa menyiapkan materi pelajaran yang akan disampaikan atau menyampaikan topik / tujuan pembelajaran kepada seluruh siswa. Tapi sebelumnya, bagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 3 sampai dengan 5 siswa.

2. Penyampaian Materi
Selanjutnya temen-temen bisa bisa menyampaikan materi pelajaran kepada salah satu siswa dalam setiap kelompok. Metodenya bisa disesuaikan. Kalau saya boleh sarankan, gunakan media pembelajaran (digital atau non digital) supaya bisa efektif disampaikan dalam durasi 5 menit. Siswa lainnya bisa diberikan tugas untuk melakukan observasi topik pelajaran yang akan dibahas.

3. Artikulasi
Siswa yang sudah menerima materi pelajaran tadi, kemudian menyampaikan ulang materi tersebut kepada teman-temannya dalam kelompoknya, tentunya dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Disini, saya sarankan diberikan batasan waktu utk mereka menyampaikan ulang materi.

4. Diskusi
Setelah semua siswa menyampaikan materi pelajaran, temen-temen memimpin diskusi untuk memperdalam pemahaman siswa. Berikan kesempatan kepada semua kelompok dan siswa untuk menyampaikan infomasi / materi pelajaran yang sudah diperolehnya.
Tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sudah disiapkan. Fungsinya untuk mengukur ketercapaian pembelajaran siswa. Saya sarankan, temen – temen berikan reward untuk kelompok yang berhasil mencapai tujuan pembelajaran.
Oya, satu lagi. Baiknya temen – temen juga buat rubrik untuk mengukur kemampuan komunikasi individu. Supaya siswa bisa mendapatkan feedback kemampuan artikulasinya.

5. Penutup
Terakhir, temen-temen simpulkan hasil belajar dalam satu siklus pembelajaran tersebut. Jangan lupa juga memberikan umpan balik kepada siswa, supaya mereka dapat menyadari perubahan terhadap kemampuan penguasaan materi dan juga kemampuan berkomunikasi.

Implementasi dalam kelas menggunakan model pembelajaran ini pernash saya bahas dalam tulisan Articulate Learning Model.

Penelitian tentang Model Pembelajaran Artikulasi

Oya temen-temen. Beberapa penelitian telah menunjukkan efektivitas Model Pembelajaran Artikulasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Contohnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Suyatno (1994) yang menemukan bahwa siswa yang menggunakan Model Pembelajaran Artikulasi memiliki nilai rata-rata postest yang lebih tinggi dibandingkan siswa yang menggunakan metode pembelajaran ekspositori.

Semoga bermanfaat
Salam Inovasi Salam Implementasi

Founder of Okeguru.Com. Teacher, Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked*

*

*

Related post
Lembar Kerja Siswa PjBL

wisnurat

25 Mar 2026

Daftar Isi1 Kesalahpahaman Penggunaan Lembar Kerja Siswa2 Rubrik Penilaian3 Download LSK dan Rubrik Penilaian Supaya lebih terarah, Lembar Kerja Siswa (LKS) bisa jadi media pembelajaran berbasis proyek. Saya coba rancang LKS PjBL dengan pendekatan manajemen PDCA. Format LKS ini bisa temen-temen gunakan atau bisa juga dikembangkan sesuai kompleksitas proyek yang dilakukan. Kesalahpahaman Penggunaan Lembar Kerja …

Perencanaan PjBL Berbasis PDCA. Mengatasi Sampah Daun di Lingkungan Sekolah

wisnurat

24 Mar 2026

Daftar Isi1 Judul Proyek2 Tujuan Pembelajaran3 Tahap PLAN4 Tahap DO5 Tahap CHECK6 Tahap ACT7 Daftar Pustaka Temen-temen okeguru, salah satu sumber proyek yang sangat baik sebenarnya berasal dari masalah nyata di lingkungan sekolah. Misalnya, banyak sekolah memiliki pohon yang rindang tetapi menghasilkan sampah daun yang berserakan setiap hari. Masalah sederhana ini dapat dijadikan proyek pembelajaran …

Integrasi PDCA dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

wisnurat

24 Mar 2026

Daftar Isi1 “Mengintegrasikan PDCA dengan pembelajaran PjBL. Apakah beneran bisa ?”2 Hubungan PjBL dan PDCA3 Daftar Pustaka “Mengintegrasikan PDCA dengan pembelajaran PjBL. Apakah beneran bisa ?” Temen-temen okeguru. Salah satu tantangan dalam menerapkan Project-Based Learning (PjBL) adalah siswa sering kali kebingungan ketika harus merencanakan dan mengelola proyek mereka sendiri. Banyak proyek akhirnya tidak berjalan optimal …

Prinsip PDCA dalam Pembelajaran di Jenjang Menengah

wisnurat

23 Mar 2026

Daftar Isi1 “Siklus PDCA. Apa benar bisa diimplementasikan dalam proses pembelajaran ?”2 1. Tahap Plan (Perencanaan)3 2. Tahap Do (Pelaksanaan)4 3. Tahap Check (Evaluasi)5 4. Tahap Act (Perbaikan)6 Daftar Pustaka “Siklus PDCA. Apa benar bisa diimplementasikan dalam proses pembelajaran ?” Temen-temen okeguru, dalam praktik pembelajaran kita sering menemukan bahwa siswa sebenarnya mampu mengerjakan tugas atau …

Desain Learning Log Berbasis Taksonomi SOLO

wisnurat

12 Aug 2025

Daftar Isi1 Cara Membuat Learning Log2 Manfaat untuk Guru dan Siswa3 Contoh Learning Log Temen-temen okeguru, learning log itu ibarat “buku catatan perjalanan belajar” siswa. Nah, Taksonomi SOLO bisa dipakai sebagai kerangka untuk menyusunnya, supaya siswa tidak hanya mencatat apa yang mereka lakukan, tapi juga mengukur sejauh mana tingkat pemahaman mereka berkembang. Learning log yang …

3 Metode Atasi Brainrot

wisnurat

16 Mar 2025

Daftar Isi1 Fenomena Brain Rot dan Penggunaan Gadget yang Berlebihan2 Project-Based Learning (PBL) sebagai Solusi3 Gamifikasi dalam Pembelajaran4 Metode Pomodoro untuk Meningkatkan Fokus5 Integrasi Ketiga Metode untuk Mengatasi Brain Rot6 Referensi Tulisan sebelumnya pernah saya posting masalah Brain rot di kalangan siswa. Akibat terpapar penggunaan gadget terlalu sering. Fenomena ini sudah masiv terjadi. Tidak cukup …

x
x